Jumat, 01 November 2019

Bab I: MENGGAMBAR BINTANG --Kisah Seorang Anak Asmat--






*Seorang dibedakan bukan,
karena laki-laki atau perempuan,
tetapi kemampuannya berprestasi
dan bersikap baik … .





Prolog

Kini  aku berada di dalam kabin Luthfansa, Airabus A380, pesawat seharga 289 juta dollar, maskapai penerbangan Jerman dalam perjalanan ke Amsterdam untuk memulai study gender S2. Beragam perasaan berkecamuk seolah tanpa ujung ketika mesin pesawat mulai berdengung untuk memulai penerbangan panjang, transit di Singapura kemudian menuju Schippol Airport selama kurang lebih 12 jam, menuju benua tempat dongeng Putri Salju berasal. Sepuluh tahun lalu saat masih gadis belia di tanah berlumpur Asmat --Papua aku tak pernah membayangkan untuk sampai pada hari ini. Hidup selalu berselubung kabut misteri, setelah melalui malam panjang berlumuran hitam tinta sampai kiranya pada fajar benderang dengan cahaya emas sang surya. Sekilas aku menatap ke deretan kursi penumpang, rata-rata adalah orang-orang berkulit putih atau sawo matang. Hanya beberapa berkulit hitam serta berambut ikal, aku sempat bertatapan dengan seorang ibu dengan penampilan sama, kulit yang teramat legam. Mungkin orang Afrika, kami sempat tersenyum menyatakan kebersamaan dan persamaan.

Di sampingku Lila, terdiam. Ia tak banyak berucap, mungkin ada satu kisah yang tak hendak diceritakan, sampai waktu menentukan. Lila akan menjadi sahabat dekat selama perjalanan serta studi ini, ia akan menjadi saksi bahwa aku tak sebatang kara. Selalu ada seorang bersama pada sebuah negeri yang jauh dan asing sekalipun, kehadiran Lila memberikan rasa tenteram.

Ketika pramugari yang ayu dan santun menawarkan gula-gula di atas piring yang indah aku  memungutnya dua butir. Penerbangan selalu diawali dengan mengulum gula-gula. Kemudian pesawat raksasa ini bergerak  menempatkan diri di ujung landasan pacu, di atas langit sama birunya dengan laut. Kali ini penerbanganku yang kedua ke luar negeri, setelah satu semester di Lemonosov Moscow State University untuk penulisan skripsi. Tanpa sadar rasa gentar menyergap, aku akan menetap untuk jangka waktu yang cukup panjang pada suatu tempat yang sama sekali baru dengan kebiasaan serta adat isti adat yang berbeda pula. Aku akan menjadi bagian kecil di dalamnya, aku tak pernah tahu --tak seorangpun akan tahu apa yang akan terjadi pada hari-hari mendatang, bahkan satu jam setelah pesawat ini mengudara. Akan tetapi, aku berkesungguhan untuk melaluinya.

Ketika dengan kekuatan pasti pesawat mulai menukik tanpa sadar sepasang mataku terpejam dan berembun. Wajah mama kembali terbayang, seorang perempuan bersahaja yang berpulang menuju keabadian sebelum aku sempat beranjak dewasa. Andai mama bisa mengantar pada perjalanan panjang hari ini, tetapi takdir hidup menghendaki berbeda. Aku seorang diri dengan  kenangan tak pernah pudar akan kehadiran mama, tanpa nasehat serta kasih sayangnya, akankah aku memiliki kesempatan yang sangat baik memenangkan bea siswa LPDP, menyelesaikan berkas-berkas, surat rekomendasi, peluang pada sebuah universitas di Amsterdam kemudian duduk pada lambung Airbus?

Setelah wajah mama, bayangan Yodi kembali hadir. Aku pernah terlambat menyadari kehadirannya, tetapi masih tersisa satu tabuh sebelum akhirnya menyadari, betapa kehilangan terlalu menyakitkan. Betapa takdir tak akan terlepas dari keinginan itu sendiri.

Udara dingin di dalam kabin seakan menyedotku ke masa lalu, suatu kurun waktu yang cukup panjang dengan asam garam serta pahit getir yang harus kutelan tanpa kenal ampun. Aku tak harus menyesali segala yang pernah terjadi, ingatan akan terus mengenang sejauh apapun kaki melangkah untuk mencapai cita-cita --menggambar bintang.

 

Adakah engkau ingin mendengar ceritaku?

 



 Bab I
Asmat --Tanah Rawa Berlumpur

Pagi hari, udara jernih dan berembun. Aku baru seorang gadis kecil yang tertawa gembira berada antara mama, bapa, kakak, mama tua, om, dan saudara sepupu. Kami akan pergi ke bevak rumah sementara jauh di hutan untuk memangur sagu dalam beberapa hari. Sepanjang jalan menuju tambatan perahu setiap orang menyapa dan melambai, bapa adalah kepala kampung, seorang yang dituakan dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari di tempat ini. Aku anak kelima dengan tiga kakak laki-laki, satu orang meninggal saat masih  bayi.
Jembatan papan tempat kaki menapak sudah mulai lapuk dan berlubang, aku harus hati-hati atau akan jatuh terjerembab, di bawah kolong  jembatan adalah tanah berlumpur yang akan digenangi air berwarna coklat susu saat bulan purnama, terlebih saat pergantian tahun. Pada kiri kanan jembatan adalah rumah panggung berdinding gaba-gaba, beratap ilalang yang segera lapuk ketika waktu serasa terbang menuju hari depan. Beragam alat penampung air, drem, ember, jerigen, loyang dan botol aqua tampak berjajar di teras-teras rumah untuk  menampung cucuran air hujan. Hutan hujan tropis yang mengungkung perkampungan berkuasa menguapkan air, karena panas sang surya kemudian mencurahkan air dari langit sepanjang tahun, hanya jeda dua hingga tiga minggu. Hujan adalah satu-satunya sumber air bersih di tempat ini, tanah rawa berlumpur telah mewarnai air anak-anak sungai serta menutup sumber air bersih dari perut bumi. Kami hidup pada alam yang berbeda, ketika setiap manusia akan dewasa dengan cara yang berbeda pula. Pada salah satu sisi kampung berdiri jew dengan megah, ialah rumah bujang  tempat bermusyawarah serta menyelenggarakan pesta adat bagi seisi kampung tanpa kecuali. Bangunan tradisional dengan satu ruang tunggal di dalamnya yang sangat lapang, sebelas pintu tanpa daun, terus menganga lebar. Lurus dengan sebelas pintu adalah tungku api, wayir --tungku utama terletak tepat di tengah-tengah. Keseluruhan bangunan terbuat dari segala bahan yang bisa diperoleh di tengah hutan, kulit kayu, batang pohon, daun nipah serta rotan. Ukiran leluhur tampak kukuh pada tiang pancang menatap ke depan, adalah bahasa, bahwa jiwa-jiwa yang telah berpulang menuju alam  keabadian tetap  menyertai kehidupan anak cucu hingga hari ini dan esok nanti.  Ketika kematian berikutnya menyusul.
Kami orang Asmat memandang kehidupan menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah dunia hidup atau Asmat ow capinmi, bagian kedua adalah tempat persinggahan orang-orang yang sudah  meninggal dan belum memasuki tempat istirahat kekal di safar --surga—yang disebut dampu ow capinmi. Roh-roh yang tinggal di dampu ow capinmi adalah penyebab penyakit, penderitaan, gempa bumi, dan peperangan. Orang-orang yang masih hidup harus menebus roh-roh ini dengan membuat pesta-pesta dan ukiran serta memberinya nama agar mereka dapat masuk ke alam safar --yang merupakan tujuan akhir, bagian ketiga dari kehidupan orang Asmat.
Selain sebagai tujuan akhir dari kehidupan orang Asmat, safar juga diyakini sebagai tempat asal roh-roh bayi. Bayi-bayi tersebut pada mulanya masuk melalui jiwi jof, yaitu pintu tempat mereka masuk ke dunia ini. Setelah dewasa dan kemudian meninggal, maka mereka akan melaui jamir jof , yang merupakan jalan menuju dunia akhir. Anak-anak yang lahir melalui jiwi jof merupakan penjelmaan orang-orang yang sudah meninggal. Mereka adalah pribadi baru yang bernama yuwus, yang berarti “nama” yang bagi orang Asmat adalah roh dari pribadinya. Dengan memberi nama pada sebuah ukiran, berarti roh dan pribadi tersebut masuk ke dalam ukiran itu. Dengan demikian, ukiran tersebut merupakan pribadi itu sendiri. Atas dasar kepercayaan terhadap roh leluhur yang telah menetap di dampu ow capinmi, maka tangan sang wowipits --pengukir-- bergerak mengikuti naluri untuk menciptakan maha karya yang menyebabkan seni ukir Asmat menjadi amat masyur.
Di jew atau di teras rumah acapkali tampak wowipits  tengah memahat sebatang kayu menjadi satu bentuk patung. Kerap terdengar cerita pada malam buta, ketika langit malam dilumuri genangan tinta dan bungkam tanpa kata, patung yang disusupi roh leluhur dapat bersuara atau berpindah tempat. Ada pula di antara patung-patung itu yang tidak disusupi roh, tetapi dibuat untuk kepentingan seni, terlebih pada lelang Pesta Budaya bulan Oktober. Ukiran itu tampak demikian  indah dan menggetarkan, tanpa satu motifpun yang kembar.
“Tewerauta …. kemana kamu orang pergi?” seorang bocah laki-laki menegurku dari teras rumah.
“Bevak …. Pangur sagu….” Jawabku seraya melambaikan tangan. Sekejab aku akan  meninggalkan kehidupan kampung, menyusup jauh ke perut alam, tempat yang tak kalah menyenangkan.
Sampai pada tambatan perahu kami menuruni tangga dengan hati-hati, menempatkan seluruh perlengkapan ke dalam ci –perahu lesung, yang terbuat dari batang kayu utuh serta cekungan di dalamnya. Pada kepala perahu adalah ukiran leluhur yang telah  berpulang, ia telah tiada, kembali menjadi debu, tetapi rohnya tetap tinggal bersama, menyertai kemana kami pergi. Aku yang paling kecil duduk pada ujung perahu, terbebas dari urusan mendayung, mama, bapa serta tiga orang kakak berdiri dengan keseimbangan penuh pada badan perahu yang ramping kemudian mulai mendayung. Pada perahu yang lain keluarga mama adik  melakukan hal yang sama, dengan perlahan dua perahu mulai bergerak meninggalkan perkampungan menuju dusun sagu. Desir angin teramat lembut dan bersahabat.
Sungai Fambrep adalah sudut paling mengesankan di seputar kampung ini, ialah anak sungai dengan aliran yang semakin lama terdengar kian merdu. Pada dua tepi sungai adalah pohon-pohon bakau yang menjulang terlalu tinggi menggapai biru langit hingga hijau rimbunan daun melindungi kami dari sayatan sinar mahatari. Siang paling terik sekalipun selalu sejuk di sungai ini. Pada dahan-dahan pohon tampak satwa liar beterbangan dengan suara mencecet, menjauhkan kami dari suasana perkampungan yang seringkali terpecah belah oleh suara perkelahian, orang-orang baku kejar, bahkan perkelahian kelompok. Perahu terus melaju semakin jauh semakin jauh, hanya sekali atau tiga kali kami berpapasan dengan pendayung dari perahu yang sama atau pengendara speed boat, kemudian sunyi. Hanya suara alam yang  menyatu serta napas yang berat, karena gerakan tangan mengayuh dayung. Perahu berbelok menempuh anak sungai yang kian mengecil dengan dedaunan yang rindang, tak  lama  kemudian tampaklah atap bevak yang menua, karena waktu, panas terik, angin  serta hujan.
Tak lama ketika perahu tertambat pada sebatang batang pohon aku segera meloncat turun, menaiki tangga bevak menjadi orang pertama yang menguak daun pintu, memuaskan rindu pada ruangan hampa di dalamnya. Api tungku telah lama mati menyisakan abu yang semakin kelam, seluruh dinding papan dan gaba-gaba telah lapuk. Bapa, bapa adik, dan kakak akan memperbaiki tempat ini, maka aku akan berbaring dengan nyaman pada malam hari dengan api tungku terus menyala. Tak ada jendela atau lubang angin  di bevak ini, sementara orang masih percaya, bahwa jendela serta lubang angin akan  menjadi tempat lalu lalang hantu serta roh jahat yang menyebabkan penyakit serta kematian. Aku tak pernah tahu seperti apa sebenarnya bentuk roh jahat, tetapi tak juga mempertanyakannya.
Semua beristirahat sejenak sebelum akhirnya tenggelam dalam kerja masing-masing, aku segera mengikuti mama dan mama adik menempuh langkah yang cukup jauh untuk memangur sagu. Bapa serta yang lain sibuk memperbaiki bevak supaya kami terlindungi pada malam hari, setelah bevak tampak lebih pantas, mereka sibuk memancing, membelah kayu bakar serta mencari karaka –kepiting. Aku menikmati hijau daun serta suasana alam nan rindang dengan embun  tergenang pada kelopak bunga liar yang dihinggapi kupu-kupu.
Ah, pohon pisang yang tiga bulan lalu kutinggalkan kiranya tengah berbuah lebat dengan semburat kekuningan. Kami akan menikmati hidangan lezat, adapun batang sagu yang rebah kini telah ditumbuhi ulat berwarna putih, gemuk dengan dua warna hitam pada kedua ujungnya. Ulat-ulat itu bergerak memanjang dan memendek dengan amat lucu, menandakan kehidupan, adalah campuran yang gurih bagi segenggam sagu yang dibakar di dalam daun sagu. Daun singkong tampak pula menghijau, pertanda kerja keras mama berkebun telah membuahkan hasil. Kami tak akan kelaparan dalam waktu beberapa minggu dengan persediaan makanan yang cukup.
Aku dan saudara sepupu memunguti ulat-ulat sagu dan menyimpannya di dalam ese –noken, tas. Mama dan mama adik mulai bersimbah keringat menokok sagu hingga serat putih itu hancur menjadi serpihan, merendamnya dengan air, mengendapkan beberapa lama hingga padat induk sagu yang sarat pati berwarna putih siap diisi ke dalan noken. Esok hari kami akan datang kembali memungut sagu yang telah mengendap sebagai bahan persediaan makanan. Ketika keringat mama telah menetes untuk yang penghabisan kami berkemas kembali ke bevak dengan beban masing-masing di punggung.
Di dalam bevak asap tungku tengah mengepul menembus atap nyiru pertanda suatu kehidupan tetap berlangsung. Api selalu sebagai penanda sang hidup, bergegas aku mencuci kaki yang berlepotan lumpur ke dalam air lalu  bergegas menyeruak ke dalam bevak, menyambar daun sagu, menaburkan sagu yang amat putih seakan lembut kapas, menambahkan beberapa ekor ulat sagu, membungkusnya kemudian memanggangnya di atas bara. Tak berapa lama kemudian aku mengunyah rasa yang demikian nikmat ketika sadar perut telah kosong sama sekali.
Akan tetapi, dengan serakah Marius, kakak laki-laki menyambar makanan lezat ini dari tanganku kemudian berlari menjauh, mendekati tepi sungai. Lahap ia menelan sagu ulat itu dalam sekejab kemudian menceburkan diri ke dalam air sungai. Senyumnya nakal dan penuh kemenangan, aku merasakan kemarahan meleleh bagai leleran panas lava pijar, hingga seluruh wajah berubah menjadi merah darah.
“Marius …….!! Awas koe…..!!” jeritanku seakan terbawa angin lalu. Adalah untuk yang kesekian kali seorang laki-laki melakukan tipu daya terhadap saudara perempuan.
“Kamu orang bakar ulang sudah….” Jan, kakak laki-laki tertua menghibur. Jan tidak sejahat Marius serta Hengki yang suka berlaku curang, ia selalu tampak dewasa. Ia bahkan membantuku membakar sagu ulat kemudian menyodorkan ke tanganku.
Air mataku hampir menitik, aku selalu kesal dengan Marius dan Hengki, mereka selalu memiliki alasan bernuat semaunya. Marius senang menjarah hak orang, sedangkan Hengki suka mengejek, karena aku seorang anak perempuan yang tidak akan pernah menang berkelahi. Di dalam hati diam-diam aku selalu membangun keyakinan, suatu saat pasti akan keluar sebagai pemenang –suatu saat. Aku mengunyah sagu bercampur ulat yang masih panas ini nyaris tanpa selera, dendamku terhadap Marius terus menyala, mengapa seorang anak perempuan harus selalu terpedaya. Bukankah bayi perempuanpun pada akhirnya akan tumbuh dewasa dan bisa bertindak apa saja. Aku melihat suster --bidan perempuan, guru perempuan, bahkan dokter perempuan, apakah perempuan yang telah memiliki pekerjaan serta menempati kedudukan sosial di dalam kehidupan masyarakat masih bisa diperdaya saudara laki-laki?
“Makanlah Tewerauta ….” Bapa menghibur, ia tahu kegundahan hatiku.
Namaku sebenarnya Magdalena, tetapi mama dan bapa selalu memanggilku Teweraut yang artinya perempuan cantik, maka demikianlah aku dipanggil sehari-hari. Seorang gadis kecil yang cantik dan selalu dibuat geram saudara laki-laki, dan sebenarnya anak laki-laki di lingkungan kampung yang kenakalannya melebihi preman jahanam. Aku belum lagi mampu berkelahi, tetapi jauh di dalam hati aku menyusun keberanian untuk dapat berkelahi dengan siapapun suatu saat. Sagu ulat ini tak kuhabiskan, tiba-tiba keseluruhan hari menjadi retak, aku selalu tak nyaman dengan Marius. Ia dapat merampas segala hal yang kumiliki sekaligus memamerkan dengan licik hal-hal yang tak pernah kumiliki. Tanpa terasa tubuhku yang mungil rebah di atas tapin –tikar, sepasang mata seakan digayuti bilah  besi, embun seakan menitik perlahan-lahan, kabut melilit seisi bevak, lalu aku melupakan semuanya, terlelap dalam tidur yang melenakan.
Tampaklah langit yang maha biru, menjadi kelam, karena mendung, menjadi tembaga, karena cahaya senja, dan menjadi hitam, karena malam. Perlahan tampak cahaya yang teramat lembut, adalah ribuan kunang-kunang yang berpesa pada gelap nuansa, langit tampak seakan kanvas yang teramat dekat dapat tersentuh. Kuraih pensil warna, seakan ada kekuatan yang mendorong di luar kemauan, maka tanganku terus bergerak, kugambar bintang, semula hanya satu – dua – tiga. Akhirnya langit menjadi gemerlap oleh cahaya yang tak terkira ….
Hangat api tungku membangunkanku, cahaya itu kiranya lampu petromax yang telah menyala dan tergantung di langit-langit bevak. Di luar malam telah turun bagai tirai maha hitam yang berkuasa terbentang tanpa satu tangan yang dapat menghentikan. Waktu kembali terbang meninggalkan satu hari dengan suka duka cerita yang membekas. Dari balik bulu mata aku dapat melihat Marius tengah rakus mengunyah pisang bakar, sekilas matanya melirikku tanpa bersahabat. Adapun Hengki tengah mulai menghisap batang rokok, ia meringis ketika bapa merampas batang rokok itu kemudian menampar mulutnya. “Plak!”
Rasakan, bisikku dalam hati. Perangai Hengki tak jauh berbeda dengan Marius, aku menganggap kedua orang itu onak dalam setiap hari. Suara tamparan itu membuatku agak terhibur, meski aku pura-pura diam tanpa kata. Aku tak hendak memulai permusuhan dengan Hengki, karena tangannya akan dengan mudah melayang, sedangkan mulutnya terlalu cepat menucapkan kata-kata keji.
“Bangun Tewe ….” suara mama terdengar merdu, tangannya yang legam menyorongkan sesisir pisang bakar. Tiba-tiba aku merasa amat lapar, tanpa berucap kusambar pisang itu kukunyah dan kutelan dengan lahap. Jerih payah mama menanam pisang kini membuahkan hasil, ketika sesisir pisang telah tandas, aku kembali melahap sagu, makan sekenyang kenyangnya hingga perutku yang kecil tak lagi menampung apa-apa.
“Nanti pulang dari bevak kamu harus kembali ke sekolah Jan, bawa serta Marius dan Hengki. Jangan kamu kasih biar dorang dua pergi manyari, bermain kacau-kacau ”, mama kembali bersuara. “Cukup sudah orang tua pergi pangur sagu ke hutan buat makan semua-semua, kamu orang anak-anak harus hidup lebih baik dari orang tua. Gerald kamu orang punya sepupu sudah jadi polisi, kamu Jan harus bisa jadi tentara. Atau kamu orang ingin selamanya menjaring ikan?” sepasang  mata mama menatap Jan lekat-lekat seolah ingin menjenguk isi terdalam hati anak itu.
Hening.
Suasana di dalam bevak tiba-tiba menjadi diam, lidah api tungku terus menjilat menebarkan hangat. Bulan Agustus udara di bevak  ini atau di bevak yang manapun beku bagai dihembus dari suatu tempat yang dipenuhi gumpalan es. Konon, di belahan bumi selatan salju tengah turun, posisi Papua, terlebih Merauke dan Asmat yang berdekatan dengan Australia, tempat Suku Aborigin menjadi lebih dingin bila dibanding dengan bulan Desember ketika matahari berada di pada 23,5 derajat garis balik selatan dan Australi mengalami siang yang selama-lamanya.
“Baik mama….” Semoga suatu saat saya akan bisa menjadi tentara”, jawab Jan singkat, sebuah jawaban yang membuat wajah mama tampak tenang.
“Mama sudah rasakan hidup susah, kamu tidak perlu merasakan apa yang harus mama rasakan”, sekali lagi mama  menegaskan. “Kamu juga harus sekolah Tewe….” Sepasang mata mama giliran menatapku, aku merasakan sebuah permintaan serta tekanan yang tak mampu kutolak.
“Sekolah?” aku balik bertanya.
“Tewe masih terlalu kecil untuk sekolah”, bapa menjawah, ia menyadari kebimbanganku.
“Tewe su tua, cukup bermain lumpur. Kamu akan menjadi ibu guru”,  mama terus bersuara.
“Ibu guru?” kujawab keinginan mama dengan ngeri, bagaimana aku seorang bocah yang tumbuh di bevak akan dapat berdiri dengan kukuh untuk  mengajar di depan  kelas? Kupejamkan mata, aku merasa diriku terlalu kecil, tersisih dari dunia maha luas yang belum mampu kujenguk seluruh isinya. Apa sebenarnya isi dunia ini?
“Ya, kamu orang harus jadi ibu guru. Atau mau kawin kecil, beranak pinak pada usia bocah, pergi pangur sagu, menjaring ikan sampai tua bangka?”  sepasang mata mama menatapku bagai kilatan mata pisau, ia tidak nyaman dengan keraguanku.
“Ursula….tidak usah engkau terlalu keras dengan anak-anak”, bapa mencoba mengamankan keadaan, meski ia tahu tak akan pernah menang  bersilat lidah dengan mama. Mamaku Ursula adalah anak kepala perang, ketika menikah dengan mama, bapa tahu ia tak akan pernah dapat memukul mama atau berkehendak semau-maunya seperti yang terbiasa terjadi. Kekerasan keluarga di kampung ini menjadi suatu hal yang lumrah, perkelahian suami istri, karena ketiadaan sagu atau rokok. Akan tetapi bapaku, Anselmus tak pernah berani bertindak kekerasan dengan mama, atau sebenarnya ia takut dengan sikap tegas mama, karena menyadari ketegasan mama benar adanya.
“Saya memang harus keras, atau anak-anakku akan menjadi tukang mabuk di jalanan. Marius dan Hengki sudah coba-coba minum sopi, satu kali saya akan rotan kamu orang”, sepasang mata mama berubah seakan bola api ketika menatap Marius dan Hengki, mama tahu kenakalan kedua anak itu, Marius dan Hengki suka pergi acara, berpesta dan menari-nari hingga pagi lalu coba-coma minum sopi, minuman beralkohol buatan lokal. Mama tahu anak-anak yang sudah mencoba minum dari kecil mungil tak akan pernah menjadi manusia kecuali permabuk, kawin kecil, dan membuat onar di sepanjang hidup.
Wajah Marius dan Hengki perlahan memucat dan menunduk, ia tahu mama pernah memukulnya dengan kayu bakar tanpa ampun, karena kenakalan yang berlebihan. Hukuman itu kiranya tetap menunggu kesempatan tepat untuk jangka waktu yang tak  ada batasnya. Wajah menunduk dan memucat itu membuatku merasa terhibur, aku tak bisa menyatakan keberatan, karena Marius merampas sagu ulat yang lezat dan hangat, kini mama menegurnya dengan alasan lain. Malam terasa hangat di dekat nyala api tungku meski udara semakin menggigit pori-pori, sekejab aku membuka pintu bevak  menghirup udara segar.
Suasana di sekitar adalah kegelapan, ricik air kali, lalu daun-daun yang kehilangan warna. Kucoba mencari bintang-bintang yang sekejab hadir dalam impian, tetapi langit sama gelap dengan jelaga, mendung tengah menggantung bagai duka seribu bidadari maya yang bersiap mengisak mencurahkan air mata. Ketika perlahan terdengar suara gerimis menitik, aku merasa seakan mendengar nyanyian alam nan merdu. Hujan selalu turun sepanjang tahun, adalah kerarifan alam yang mendukung kelangsungan hidup di kampung ini. Andai hujan turun dalam enam bulan terakhir dalam kurun waktu satu tahun, kehidupan di kampung ini pasti sudah lama berakhir. Mungkin orang di wilayah lain tak akan pernah mempercayai kehadiran air hujan di tempat ini kecuali datang untuk menyaksikan sendiri. Aku masih ingin berlama-lama menyatu dengan hitam malam, tetapi suara hujan semakin keras bahkan mengerikan.
Di bevak sebelah tempat mama adik tinggal terjadi kesibukan serupa, ketika satu keluarga tengah duduk bersama membakar sagu dan ikan untuk mencukupi kebutuhan makan hari ini. Aku dapat mendengar suara orang bercakap meski tak pernah tahu hal apa yang dibicarakan hingga suara gemuruh hujan mengubah kesibukan menjadi kegembiraan menampung air hujan. Suasana berubah dengan cepat dari panas terik dan biru langit nan membentang, menjadi langit merah, hitam, dan kini hujan deras yang meruapkan udara dingin.
Tergesa mama menempatkan loyang, ember,  jerigen, apapun yang berguna untuk menampung air. Kami harus minum, satu-satunya sumber air bersih adalah hujan, ketika siang mama basah kuyup keringat, kini mama basah kuyup air hujan. Sementara tubuhku mulai menggigil, suara hujan berubah seakan raungan alam yang marah, karena satu dan lain hal. Air tercurah dari langit mencabik-cabik hening, mengusir bintang, menyatu dengan angin kencang seakan berniat membawa bevak ini terbang melayang menuju peta teramat jauh, tak bertuan. Beberapa bagian atap bocor, mama segera menadahnya dengan ember. Aku mendekatkan diri pada nyala api tungku, bapa meletakkan batang-batang kayu di atas para-para, bila kayu tetap basah, esok tungku api tak akan pernah menyala, tak ada sagu atau ikan bakar. Segalanya akan terhenti.
Kuharap hujan reda dalam beberapa saat, akan tetapi langit malam terbelah oleh suara guntur, halilintar yang menggelegar, kilat nan menyambar. Selebihnya air yang tertumpah tanpa kenal ampun seakan tangisan beribu peri, karena pedih serta duka hati. Suara itu menimbulkan rasa takut, kukatupkan mata untuk melupakan segala suara, kubayangkan tentang gemerlap cahaya bintang pada indah langit malam di bawah cerlang cahaya bulan. Lalu tubuhku yang rapuh melayang terbang menempuh cahaya, meninggalkan bevak yang basah kuyup, meninggalkan rasa takut, meninggalkan dendamku pada Marius serta permintaan mama untuk pergi sekolah. Aku berada di antara lembut cahaya kunang-kunang yang dengan menakjubkan berubah menjadi bintang timur,  menjadi beribu bintang. Tubuhku terus melayang, melayang hingga aku tak mendengar apa-apa, tak merasakan apa-apa. Di luar malam terjebak dalam curahan hujan lebat serta maha warna hitam yang kukuh membentang tanpa berkesudahan.
                                                                                ***
Pagi terjaga dengan udara yang terlalu dingin menikam pori-pori, ketika membuka mata suasana di dalam bevak telah sunyi. Di luar terdengar suara orang membelah kayu bakar, Marius tergelak bersama Hengki dengan segala kesombongan. Dimana mama?
Ia pasti tengah menyusup ke dalam hutan untuk kembali memangur sagu. Aku merasa menjadi orang yang paling malas, terbangun dengan enggan. Betapa nyaman berbaring di balik sehelai kain usang, kelambu serta api tungku yang belum sepenuhnya padam. Aku masih ingin bermalas-malasan, tetapi Hengki tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam bevak, mengejek. “Dasar perempuan pemalas ….” Wajahnya menatapku geram, ia menyeringai dengan deretan gigi yang tampak buruk kemudian berlalu keluar setelah menyambar sebatang pisang bakar.
Kusambar pecahan kayu bakar kulempar ke punggungnya, dengan gesit Hengki mengelak sambil menjulurkan lidahnya, sekejab ia menggoyang-goyangkan pantat  kemudian menghilang dari balik pintu. Demi Tuhan aku ingin Hengki pergi untuk selamanya, aku tak ingin bersua dengan wajahnya yang sungguh buruk di rupa. Akan tetapi, takdir menghendaki lain, aku masih akan tetap bersama Hengki dan bedebah Marius untuk jangka waktu yang sangat panjang. Bahkan kedua sosok itu betapapun menjengkelkan tak akan pernah menghilang dari ingatan.
Beberapa tabuh setelah terbangun aku segera membakar sagu ulat, menikmati manakan adat tanpa kehadiran Marius si penjarah hingga perut menjadi kenyang. Seterusnya aku mengejar mama yang tengah bersimbah peluh memangur sagu di tengah hutan. Mama masih bekerja keras memangur sagu kemudian memikulnya di punggung berulang kali ke dalam bevak. Wajah mama tampak demikian penat, tetapi aneh ia tak pernah sekalipun mengeluh. Ketika akhirnya mama menyudahi kerja keras memangur serta memikul sagu di bevak senja telah tiba dalam cahaya emas yang menakjubkan. Hijau daun tampak gemilang di bawah cahaya kekuningan, suara kicau burung, ricik air serta ranting kering patah menjadi bagian sehari-hari tak terpisahkan.
Sejenak aku terduduk pada sebuah cabang kayu, di atas aliran air sungai, menyatu dalam cahaya lembayung dan hijau daun, satu kenangan masa kecil yang terekam kuat pada ingatan terdalam kemudian selalu terbawa sejauh apapun kaki melangkah. Aku menjerit ketika tiba-tiba ada tangan kuat mendorongku terjatuh dari cabang pohon. Sekejab kemudian aku telah tercebur, basah kuyup ke dalam air. Darahku mendidih oleh suara tergelak Marius. Si bedebah kembali berbuat ulah. Dengan gesit aku beranjak ke tepian kugenggam lumpur, kukejar Marius dan kuoleskan hitam lumpur pada mukanya yang legam. Kemudian aku berlari menceburkan diri ke dalam aliran sungai. Dengan geram Marius berniat mengejarku, tetapi Jan segela menahan langkah dengan mejegalnya, sehingga ia jatuh terjerembab ke atas lumpur. Marius berniat melawan Jan, tetapi kakak tertuaku berdiri dengan gagah tanpa rasa takut.
“Berani kau melawanku?” wajah Jan dingin. “Kau mendorong anak kecil ke dalam air, cukup sudah”, Jan menatap Marius penuh teguran. Ketika Marius melayangkan tangan dengan sigap Jan menangkap, mendorong tubuh Marius jauh ke belakang. “Jangan kira aku takut menghajarmu”, Jan menyambar sebatang kayu, maka Marius segera tertunduk, membuang pandang kemudian menjauh.
Aku menatap adegan itu dengan penuh kemenangan, aku masih terlalu rapuh untuk berkelahi dengan Marius. Akan tetapi, apakah seorang bocah kecil akan rapuh seterusnya? Diam-diam aku tersenyum, lalu menenggelamkan diri ke dalam air, berenang pada aliran sungai secoklat kopi susu selalu  menyenangkan. Aku terus berenang menyeberang dari satu tepi menuju ke tepi sungai hingga tiba-tiba udara berubah menjadi sangat dingin, bila terus bermain air bibirku akan biru dan seluruh badan akan ngilu.
“Tewerauta …. bareo, pulang. Su gelap ini, nanti roh jahat datang mengambil anak kecil pergi jauh ….” Mama berteriak dari bevak. Suasana gelap selalu memanggil roh jahat datang, anak kecil harus kembali ke orang tua untuk menghangatkan diri di depan api tungku.
“Tungguo…. Asyik ini….” Aku mencoba melawan, tetapi air sungai terasa semakin dingin, akhirnya aku menyerah, menghambur ke pelukan mama dalam keadaan basah kuyup.
“Kamu orang gilakah?” mama menepuk pantatku  kemudian melucuti seluruh pakaian yang basah kuyup, mengganti dengan pakaian baru. Sehelai pakaian tua yang cukup kiranya untuk melawan dingin. Mama memeras pakaianku yang basah kuyup kemudian menjemurnya di teras bevak, esok pakaian itu akan kering sebagai pengganti.
Di dalam bevak api tungku telah menyala, asapnya mengepul, meliuk-liuk seakan ular patola, beranjak menuju atap kemudian menembus celah-celahnya. Mama kini membakar sagu bola serta ikan yang berhasil ditangkap di sungai, menu makanan sehari-hari yang nyaris tak berubah. Bapa tengah asyik menghisak rokok lampion, rokok kelinting yang beraroma tajam menusuk, anak-anak selalu melihat orang tuanya menghisap rokok kemudian menirunya. Sering tampak anak-anak usia belia telah pandai mengisap rokok serta mengunyah pinang. Akan tetapi, dalam hal ini mama dan bapa selalu memberikan teguran kepada anak-anak.
Aku meringkuk dalam pelukan bapa, bila hati tengah senang bapa suka bercerita, sebuah dongeng yang memicu pikiranku untuk menatap semakin jauh tanpa batas. “Bapa ayo cerita ….” Aku mulai merengek.
Bapak tak segera menjawab, ia masih sibuk menikmati rokok linting, seolah tak ada yang lebih menarik dalam hidupnya kecuali memainkan asap dari mulutnya. “Bapa …. Ayo….” Aku terus merengek, maka mulailah terdengar sebuah cerita , asal mula Kali Yombot, adalah kali yang terletak di kampung Yombot di tepi sungai setelah mendayung menyusur pantai dari tempat tinggalku.
“Syahdan, pada masa yang sangat lampau di Kampung Yombot tersebutlah seorang mama beserta anak gadisnya yang cantik. Suatu sore tanpa sepengetahuannya kedua mama dan anak itu menebang pucuk sagu, kemudian tertegun ketika seorang mengingatkan, bahwa pucuk sagu itu adalah tempat tinggal ular bindiw. Sang ular akan marah, karena tempat tinggalnya terusik. Benar, kemarahan si bindiw, karena pada malam hari ular itu mendatangi rumahnya menuntut bayar, supaya sang ibu menyerahkan anak gadisnya sebagai istri ….”
“Hihh  menjadi istri ular?” sepasang mataku terbelalak lebar,  betapa menakutkan.
“Iya, tetapi mama mana yang mengijinkan anaknya menikah dengan ular? Sang ibu dan anak menolak, maka ular bindiw menggigitnya kemudian pergi. Malam berikut bindiw kembali datang untuk menuntut perkawinan, sang mama terus menolaknya. Bindiw pun kembali menggigitnya, sang mama dan anak ketakutan kemudian mencari akal. Pada malam berikut ketika ular bindiw datang sang mama menerima lamaran itu dengan syarat meminta mas kawin seekor babi. Bindiw mengikutinya, maka iapun pergi ke hutan untuk mencari seekor babi …..” sesaat bapa terdiam.
“Terus ….” Aku sungguh penasaran dengan dongeng itu.
“Sementara ular bindiw pergi mencari babi, sang mama membakar sebutir batu di dalam tungku. Malam berikutnya ketika bindiw datang dengan seekor babi. Sang mama meminta bindiw membuka mulut supaya ia melihat taringnya yang tajam. Bindiw yang tak pernah tahu maksud hati seorang mama membuka mulutnya. Secepat kilat sang mama memungut batu yang telah panas bagai bara kemudian memasukkan batu itu ke mulut bindiw, maka sang ular kesakitan berlari meninggalkan rumah sambil menjerit di sepanjang jalan. Jalan  yang dilaluinya menjadi jejak yang terus memanjang hingga ke muara. Kemudian hujan turun dengan lebat, maka jejak ular bindiw menjadi sungai yang disebut dengan sungai Yombot….” Bapa mengakhiri cerita, kemudian sepasang mataku menjadi merah.
Tanpa bertanya kembali, aku langsung rebah tertidur.
Kami masih  melakukan hal serupa di dalam bevak di tengah hutan selama beberapa hari hingga bevak ini penuh dengan bernoken-noken sagu, kemampuan perahu untuk memuat seluruh sagu terbatas. Akhirnya bapa memutuskan untuk kembali ke kampung, kembali menjadi kepala kampung dengan segala rencana bagi anak-anaknya.  Aku menikmati perjalanan pulang dengan melewati Kali Fambrep, melintasi batang-batang pohon yang menjulang tinggi menggapai langit, hijau daun yang melingkupi seluruh tepian sungai serta suara marga satwa yang merdu bagai lembut nyanyian sorga.

                                                                      ***

Bab II: MENGGAMBAR BINTANG --Kisah Seorang Anak Asmat--


Bab II
Ke Sekolah

Mama  menghempaskan seluruh tubuh ke atas papan lantai, kini baru terasa betapa pergi memangur sagu ke hutan adalah pekerjaan yang mendatangkan susah sungguh. Keringat seakan tuntas menetes, ia tak memiliki pilihan lain kecuali mencambuk diri seakan kuda-kuda perang, atau anak-anaknya akan mati kelaparan. Jan yang bertumbuh menjadi remaja berperilaku baik, Marius dan Hengki yang menunjukkan tanda-tanda  kenakalan dan enggan pergi ke sekolah serta aku --Teweraut, satu-satunya anak perempuan yang harus dipersiapkan belajar membaca dan menulis sebelum terseret ke dalam kehidupan yang jauh dari segala harapan. Beberapa orang di kampung ini telah berhasil  menjadi mantri, bidan, perawat, guru, polisi, diakon. Sebagian yang lain, entahlah.
Mama tak pernah ingin anak-anaknya menjadi bagian dari kelompok kedua –bagian entahlah. Ia akan meninggalkan kehidupan dengan tenang andai aku dapat berdiri di depan kelas menjadi ibu guru. Magdalena, Si Teweraut, gadis kecil yang “cantik” itu kini tengah meringkuk di dekat tungku api, merasakan kelelahan serupa setelah berhari-hari tinggal di hutan. Aku tahu mama mengasihiku lebih dari apapun, suatu perhitungan yang tak akan dapat dibayangkan seorang  bocah. Mama telah melihat nasib gadis belia yang tak mendapat perhatian penuh dari orang tua, atau mendapat perhatian, akan tetapi gadis-gadis itu terseret pada pergaulan di tempat yang  kelam. “Lari” tinggal dengan pemuda pujaan hati, tanpa ijin dari orang tua pada usia muda, tanpa pekerjaan, penghasilan, dan kekuatan untuk melawan kekerasan di dalam keluarga menjadi, beranak pinak dengan pinang tidak pernah lepas dari mulut, atau asap rokok yang terus mengepul. Ibu-ibu muda menjadi terlalu cepat tua sebelum waktunya.
“Mama…. Sa lapar ini?” Marius dan Hengki berteriak bersama-sama.
“Bukankah engkau dapat membakar sagu sendiri?” mama menatap kedua anaknya dengan pertanyaan, tak susah membakar sagu setelah ia bersimbah menokoknya di tengah hutan.
Percakapan tak berlangsung lama, dengan wajah bersungut Marius dan Hengki membakar sagu. Tak lama kemudian kerabat dekat yang menetap di kampung ini berdatangan satu demi satu. Kedatangan seorang kerabat dari bevak dengan bernoken-noken sagu adalah sumber bahan makanan bagi kerabat yang lain. Setiap kerabat dapat meminta sagu, membakar pada tungku api yang sama ketika salah seorang memiliki kelebihan sagu. Demikian sebaliknya, pada waktu yang berbeda ketika kerabat yang memiliki banyak sagu akhirnya kekurangan, maka yang bersangkutan dapat meminta sagu kepada kerabat yang lain. Akan tetapi, mama telah menyembunyikan beberapa noken sagu yang dipesan Suster Theresia, seorang biarawati. Ia akan pergi ke biara esok hari, aku ikut serta.  
Keesokan harinya, pada pagi sebelum matahari melambung tinggi mama telah memikul sagu di punggung, aku mengekor di belakangnya. Kami menapaki jembatan papan  yang sudah mulai lapuk, sejengkal demi sejengkal hingga sampai di biara, diterima Suster Theresia dengan ramah. “Mama Ursula, akhirnya datang juga sagu yang ditunggu. Ini mama punya anak gadis?” Suster Theresia menatap ke arahku, wajah itu tampak bersahaja dengan senyum tulus mengembang.
“Iya, ini saya punya anak yang paling kecil,” Mama menyeka peluh, terduduk di atas lantai.
“Sudah sekolah belum?”
“Besok saya akan mengantarnya ke sekolah,” jawab mama.
Sekolah?
Aku terpaku bagai patung yang selesai diukir tanpa napas  kehidupan, kepalaku tiba-tiba terputar seakan gasing, kutatap mama dengan gamang. Akan tetapi, mama tak peduli dengan kegamanganku. “Kelak, Tewe akan menjadi ibu guru,  mengajar di depan kelas,” ucapan mama sepenuh keyakinan.
“Ah, luar biasa,” Suster Theresia tertawa berderai, ia tampak kagum dengan jawaban mama. Seterusnya keduanya saling bercakap.
Tanpa sengaja kulihat buku cerita bergambar, aku tak tahu dari mana datangnya kekuatan, tiba-tiba tanganku bergerak meraih buku tipis itu, membuka lembaran demi  lembaran, menakjubkan. Aku melihat gambar-gambar indah yang tidak pernah kulihat selama ini, deretan huruf yang belum mampu kueja, entah apa artinya, karena aku memang belum pernah belajar aksara. Aku merasa senang, seakan ingin menjadi  bagian dari gambar itu, menjadi salah satu corak warna yang mendebarkan.
“Engkau senang dengan buku cerita ini?” suara Suster Theresia mengejutkan. Aku terdiam tanpa kata, hari ini untuk yang pertama kali aku menyentuh buku cerita, aku bahkan tak tahu apa isinya kecuali gambar yang indah. “Ambilah, calon ibu guru harus rajin membaca …." Senyum di bibir Suter Theresia mengambang.
Aku tak mampu menjawab, takut dan malu, meski jauh dalam hati bersorak gembira. Telah kudapatkan sesuatu yang  tak pernah kubayangkan, tak kuketahui apa isinya, tetapi menyenangkan. “Ucapkan terima kasih,” mama berbisik tepat di telingaku.
“Terima kasih suster,” suaraku nyaris tak terdengar, kugenggam buku itu erat. Kami berpamit, kukira mama akan terus kembali ke rumah, akan tetapi langkahnya berubah menuju ke pasar, dengan sejumlah uang tergenggam di tangan mama membeli pakaian seragam, tas serta buku tulis, dan pensil.
Untuk apa semua itu?
Pertanyaan itu terjawab keesokan hari ketika pagi-pagi sekali mama telah membangunkanku, memandingan dengan seember air hujan yang dingin membeku, mengenakan pakaian seragam merah putih seakan warna  bendera yang berkibar pada keinggian tiang, memberikan tas berisi pensil dan buku tulis kemudian menggandengku ke sekolah. Aku ingin memberontak, bergabung dengan teman-teman bermain lompat tali kemudian terjun ke dalam air sungai, tetapi tangan kekar mama mencengkeram tanpa kenal ampun. Aku merasa demikian asing ketika memasuki halaman sekolah, mengekor di belakang mama menuju ruang kepala sekolah. Mama tampak bercakap-cakap dengan sikap merendah, tersenyum, mengangguk kemudian menuntunku menuju ruangan kelas.
Berpasang-pasang mata menatap seakan aku mahluk aneh dari negeri antah berantah, aku ingin menjerit. Air mata nyaris gugur pecah menjadi debur ombak, ketakutan menyergap. Aku telah melihat kesibukan pelajar pulang pergi ke sekolah, akan tetapi ketika memasuki ruang kelas, segalanya menakutkan.
“Belajarlah baik-baik, jangan berkelahi, jangan melawan ibu guru. Pulang sekolah segera kembali ke rumah,” mama menatapku kemudian pergi berlalu, meninggalkanku sendiri pada sebuah bangku. Sementara wajah-wajah aneh kembali menatap, siswa laki-laki tampak berkejaran dengan suara gaduh seakan berniat menelanku dengan geram, mengingatkan akan wajah Hengki dan Marius. Demikiankah dunia di luar bevak? Diam-diam aku mengeluh.
Ketika terdengar suara lonceng berbunyi secara tiba-tiba seluruh siswa memasuki ruangan, duduk di bangku masing-masing. Ibu guru berdiri mengajarkan menulis, membaca, menggambar, dan menyanyi, aku tak tahu arti semua itu. Mengapa seorang Teweraut harus belajar duduk di atas bangku? Tak pernah dalam hidup aku merasa bosan seperti ini, aku tak tahu apa yang diajarkan ibu guru, aku tak perlu tahu. Aku hanya ingin pulang, bermain lumpur, lompat tali kemudian berenang. Bukankah teman-teman sepermainan, Anjela, Aleksis, Mori, dan Sandra tak juga pergi ke sekolah. Apa sebenarnya maunya mama?
Ketika lonceng istirahat berbunyi, diam-diam aku menyelinap meninggalkan ruang kelas kemudian pulang ke kampung bergabung dengan Anjela dan Mori yang sementara tengah berenang di tepi kali. Kutanggalkan seluruh pakaian seragam yang terasa berat, sungguh  menyenangkan terjun ke dalam sungai, kulupakan seluruh ketakutan serta galau ketika harus duduk di bangku kelas. Kini, aku kembali bebas. Aku benar-benar bebas sampai akhirnya terasa tangan kekar mama mencengkeram lengan, menuntun pulang.
“Engkau membolos Tewe?” suara mama menahan amarah, ia kecewa, karena gadis kecilnya tidak menyudahi hari pertama di sekolah dengan baik.
Aku terdiam tak menjawab hingga keesokan hari, ketika mama kembali melakukan hal yang sama membimbingku pergi ke sekolah. Di dalam  kelas aku kembali merasa tersesat ke negeri yang jauh, sungguh tak menarik mendengarkan seorang guru mengajar, aku tak tahu mengapa seorang harus bisa menulis, membaca, dan  menggambar? Aku ingin keluar dari siksaan ini. Ketika lonceng istirahat berbunyi aku kembali menyelinap meninggalkan kelas, bergabung dengan Anjela, Mori, dan Aleksis bermain pasar-pasaran serta berenang di tepi sungai. Mama kembali menangkapku, memberi nasehat,  mengomel serta menegur.
Kejadian yang sama berulang hingga hampir satu tahun lamanya. Mama tak pernah bosan mengantarku pergi ke sekolah, menangkap di tepi sungai, memberi teguran, dan harapan. Aku tak pernah jera, belajar di sekolah sangat tidak menarik. Aku akan pergi meninggalkan bangku sekolah untuk selama-lamanya, tetapi ….
                                                                     ***
Kali ini aku menyelinap meninggalkan ruang kelas pada jam isirahat untuk yang terakhir, ketika aku tengah bergembira bersama teman-teman di tepi kali pada sebuah perahu, tiba-tiba terasa tangan mama mencengkeramku. Untuk yang ke sekian kali aku tak berdaya, kutinggalkan permainan yang mengasyikan ini, kembali ke rumah. Mulut mama membungkam tanpa sepatah kata, sampai di depan tungku api, tubuhku yang kecil terhempas nyaris mencium kelam lantai. Sepasang mata mama berubah menjadi bola api yang siap berkobar membakar seisi rumah, wajahnya merah seakan darah, diam-diam lututku menggigil, aku telah bersiap untuk menerima pukulan serta caci maki, karena kenakalan ini. Mama pasti akan bersuara keras, sehingga seisi kampung mendengar, pohon-pohon  bergetar daun-daun gugur.
Ternyata dugaanku keliru, sepasang bola mata mama bukan berkobar menjadi api, sebaliknya meredup –-meredup, kemudian memejam. Tiba-tiba pipi itu basah air mata, semakin deras mengucur dibarengi isak tangis, sepasang Sungai Fambrep seakan mengalir dari sumber duka cita terdalam, karena kenakalanku. Air sungai itu terus mengalir, terengah menuju muara, memecah menjadi ombak. “Tewerauta …. Setahun sudah mama yang semakin tua ini mengantar ke sekolah supaya engkau bisa baca tulis, menjadi ibu  guru, tak perlu pangur sagu ke bevak seperti ko pu orang tua, tapi engkau melawan. Kau kira mama akan hidup selamanya? Memberi makan minum sampai engkau menjadi perempuan tua? Marius dan Hengki tidak bisa diatur, kini engkau lagi. Engkau ingin  menjadi buta huruf, sedikit lagi lari ikut laki-laki pilihan, membakar sagu di rumahnya, menjadi suami istri, beranak pinak tidak punya kerja. Masih baik kalau paitua –suami orang baik-baik, kalau tidak engkau harus memberi makan seisi rumah, membelah kayu bakar, tidak ada makanan, tidak ada rokok paitua akan pukul koe, kemungkinan sampai mati. Bukankah engkau telah tahu kekerasan itu?” suara mama diikuti isak tangis ia tampak sedemikian cemas dengan nasib seorang anak perempuan ke depan. Mama tak tahu pula baca tulis, tetapi ia telah melihat nasib perempuan yang terjadi di kampung ini. Nasib perempuan yang bukan terlahir dari anak kepala suku yang hampir setiap hari berkelahi dengan paitua, karena urusan sagu, ikan, dan rokok. Aku memang anak perempuan seorang kepala suku, akan tetapi ketika zaman terus berubah, apa bedanya? Mama nyaris tak pernah mendapat kekerasan dari bapa, tetapi ia tak akan pernah dapat menjadi ibu guru, mama harus memangur sagu untuk memberi makan seisi rumah.
“Selagi mama masih hidup dan menuntun ke sekolah, pergilah ke sekolah. Kalau mama mati, siapa akan menuntunmu pergi ke sekolah ….” Suara mama amat lirih seakan berasal dari lorong waktu, dari tempat yang sangat jauh tak dapat dikunjungi, dari alam  kematian.
Seluruh tubuhku menggigil, keringat dingin mengucur, aku tersadar akan seluruh kesalahan, aku menjadi mengerti akan kecemasan mama, mengapa ia berusaha keras mengantarku ke sekolah. Bagaimana kalau mama benar meninggal, karena kenakalan ini? Rasa takut menyergap, aku tak bisa kehilangan mama, aku tak bisa membiarkan sepasang pipi mama menjadi aliran Sungai Fambrep kemudian berdebur menjadi ombak lautan. Aku akan melakukan segala-galanya supaya mama tetap hidup, aku bahkan akan bersedia menjadi ibu guru. “Mama …..” aku menghambur ke dalam pelukan mama. Kudekap mama erat-erat, tangisku pecah, “Saya akan sekolah mama…. Saya akan sekolah….” Akhirnya tangan mama membelai rambutku, kurasakan kasih sayang teramat dalam, harapan, juga kecemasan. Benar, aku berjanji tak akan lari meninggalkan bangku sekolah pada jam istirahat.  
Keesokan hari ketika terbangun, segalanya tak lagi sama. Aku tak perlu lagi mendapat pengawasan untuk pergi ke sekolah, aku membasuh tubuh dengan secukup air hujan yang tertuang di ember, mengenakan seragam merah putih, menyambar buku tulis serta pensil. Pada tungku api masih tersisa hangat sagu bola, cukup sudah untuk pagi ini, kuraih sagu enak itu. Sambil melangkah ke sekolah kukunyah sagu itu, kulambaikan tangan pada mama. Wajah mama tampak cerah diliputi harapan, langkah kakiku terasa ringan. Beberapa anak tampak mengenakan seragam sekolah pergi menuntut ilmu, yang lain entahlah. Tampak anak-anak usia sekolah riuh bermain kelereng, berenang di sungai atau bermain lompat tali aku terus melangkah.
Lonceng berbunyi saat aku sampai pada halaman sekolah, aku mempercepat langkah supaya bisa duduk di bangku sebelum ibu guru mengajar. Tampak wajah-wajah baru di kelas satu, wajah-wajah lain telah naik ke kelas dua, ada pula yang tetap tinggal. Kiranya aku tinggal kelas, karena raport yang merah, karena setiap hari selama satu tahun terus kembali ke rumah pada jam istirahat. Aku tak peduli, terduduk diam mengikuti seluruh pelajaran, menulis, dan membaca. Pada jam istirahat aku tetap duduk di kelas tak  ada lagi niat keluar bermain air di sungai atau bermain lompat tali. Aku tak mau lagi melihat air mata mengalir deras pada pipi mama, aku tak ingin membuatnya kecewa.
“Hai…. Engkau mau kue?” seorang siswa baru berambut lurus, berkulit terang menawarkan sepotong kue dalam kotak. Wajah gadis kecil itu sedemikian lembut dan manis, ia bukan seorang yang tinggal di kampungku, ia anak pendatang, anak pertama ibu guru.
Aku ragu menerima tawarannya, baru kali ini ada seorang yang demikian murah hati menawariku kue. Aku terdiam dengan tatapan aneh, malu, dan heran. “Namaku Nurul…. Ambilah,” tangan Nurul yang mungil mengulurkan sepotong kue yang ternyata lezat rasanya, di kampungku tidak ada yang dapat membuat kue seperti ini. Ketika menguyah kue yang sama, aku mulai merasa hangat, aku mulai merasa menjadi bagian siswa yang lain di kelas ini.
“Namaku Teweraut….” Kupernalkan diri.
“Mau gula-gula ….?” Nurul kembali menawarkan gula-gula yang manis bercampur asam rasanya. Kali ini aku tersenyum, sekolah ternyata bukan hanya belajar menulis, membaca, menyanyi, dan menggambar. Akan tetapi, belajar bersahabat, menjadi bagian antara yang satu dengan yang lain. Nurul sahabat pertamaku demikian lembut, satu hal yang menambah keyakinanku untuk tetap hadir di kelas. Seterusnya kami berteman, belajar bersama, bermain bersama. Ketika siswa laki-laki mulai mengganggu, membuat kenakalan, Nurul akan membelaku, ia anak ibu guru, siswa yang lain tak berani melawan, tak berani mengganggu. Seterusnya Maria, Mira, dan Sela juga bergabung menjadi teman baik, bahkan Ucok. Bersekolah ternyata menyenangkan.
Aku tak pernah lagi membolos, setiap pelajaran kuikuti dengan tekun, hingga akhirya aku dapat menulis dan membaca. Buku cerita yang diberikan Suster Theresia akhirnya dapat pula kupahami isinya, adalah kisah Putri Salju, putri yang terbuang, karena iri dengki ibu tiri. Sang Putri yang tertidur lelap dalam jangka waktu panjang dan akhirnya kembali terbangun, karena cinta sejati seorang pangeran. Ajaib!
Akan tetapi, dimana itu istana tempat Sang Putri tinggal? Suatu tempat yang menjadi putih serta membeku saat musim dingin, salju luruh dari langit seakan kapas nan lembut menakjubkan. Dimana? Aku hanya dapat memendam pertanyaan jauh di relung hati, tanpa keberanian untuk bertanya kepada siapapun. Mungkinkah seorang gadis kecil Suku Asmat bertanya tentang negeri dongeng tempat seorang putri nyaris terbunuh? Negeri yang diliputi salju.
Kisah itu tetap melekat dalam ingatan, kusimpan buku cerita Putri Salju bersama impian dan rasa ingin tahu yang belum mampu kuterjemahkan. Kemana impian serta rasa ingin tahu ini mesti kubawa? Buku cerita Putri Salju tetap kusimpan di dalam tromol, jauh dari jangkauan tangan usil Marius dan Hengki. Seterusnya aku tetap pergi ke sekolah bermain bersama Nurul, Maria, Sela, Mira, dan Ucok. Di rumah Nurul kiranya ada pula buku cerita anak-anak yang lain, ibu guru senang ketika kami bermain di rumah bersama Nurul, terlebih membaca cerita anak-anak. Ada kalanya ibu guru membawakan pula cerita itu, membaca cerita serta mendengarkan ternyata menyenangkan. Dunia bukan hanya seisi kampung yang kecil serta Agats, ibu kota distrik. Akan tetapi, lebih luas –jauh lebih luas dari itu.
Tiap tahun aku naik kelas, bahkan masuk ke sepuluh besar. Kegiatan di luar sekolah kuikuti pula, sehingga aku menjadi sibuk. Ketika mama pergi ke bevak aku akan tinggal bersama mama adik atau mama tua untuk mendapatkan perlindungan serta sagu dan ikan. Pada hari libur aku tetap menyertai mama ke bevak menyatu dengan alam, menikmati hijau daun, suara merdu marga satwa. Pada  hari-hari biasa aku tetap berseteru dengan Marius dan Hengki.

                                                                        ***
Hari itu mama membelikanku baju kaos berwarna pink, aku sungguh gembira, kaos ini akan kupakai nanti pada saat kerja bakti di sekolah. Akan tetapi, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Marius menatapku dengan geram, ia tak senang aku memiliki baju baru, ketika kaos itu kulipat di dalam tromol, dengan sombong ia merampas kemudian mengenakannya. Tubuhku lebih gemuk bila dibandingkan dengan sosoknya yang kurus kering seperti lidi. Ukurannya baju ini cukup untuk usia Marius yang empat tahun lebih tua tanpa kemampuan membaca atau menulis. Seketika darahku mendidih, “Lepaskan, kembalikan!” suaraku lebih menyerupai jeritan.
Marius tak peduli, senyumnya mengerikan, ia merasa menang, kata-katanya tak kalah menakutkan, “Engkau perempuan mengalah sudah, engkau akan berulang kali menjerit kesakitan, karena melahirkan. Aku tidak!” wajah Marius sedemikian pongah, aku benar ingin menggamparnya. Dendamku menyala, aku tahu api akan terus berkobar dan tak akan pernah dapat dipadamkan. Aku tak ingin lagi berkata-kata, kusambar kayu bakar, kulempar hingga nyaris mengenai mulutnya yang lebar. Pipi Marius sedikit tergores berdarah. Kukira ia akan menyambar kayu bakar itu untuk menyerangkau.
Dugaanku keliru, Marius menatapku tak percaya, bahkan gentar. Aku telah bersiap dengan kayu bakar berikutnya, kalau ia anak seorang kepala suku, demikian juga aku. Seorang anak perempuan tidak harus mengalah dengan anak laki-laki, tidak ada cerita. “Kenapa kau tak mati saja? Engkau akan menderita selama-lamanya, sampai datang hari terakhir!” aku tak tahu dari mana kata-kata ini bersumber, mungkin dari rasa sakit, karena Marius tak pernah berlaku layaknya seorang saudara, lebih tepat musuh dalam selimut.
Perlahan-lahan wajah Marius menunduk, ia membalikkan tubuhnya yang setipis lidi kemudian berlalu pergi. Ia telah kalah atau pura-pura kalah, ia tak pernah mengembalikan baju kaos warna pink hingga kelak baju kaos itu menjadi kain lap, aku tak pernah mengenakannya. Ia benar merampas pemberian mama yang istimewa kepadaku.
Ketika aku duduk bersandar dengan air  mata berlinang, Jan tergesa datang. Mendadak Jan menjadi sangat sibuk, aku tak tahu apa yang tengah dikerjakan pada remaja usia. Akan tetapi, ia masih sempat membagi waktu dengan air mataku yang terus berlinang. “Tewerauta…..kenapa?” Jan bertanya.
“Marius ambil de pu baju kaos….” Mama menjawab, ia telah tahu tentang kenakalan Marius tetapi tidak berdaya.
Sejenak Jan menghela napas panjang kemudian berucap, “Ayo kita ke pasar, kakak belikan engkau baju kaos yang baru”.
Kutatap wajah Jan dalam-dalam, betapa berbeda watak Jan dengan Marius, aku nyaris tak percaya kata-katanya. Dari mana Jan mendapatkan uang? Ia hanya seorang pelajar SMA. “Aku mendapat hadiah dari lomba poster….” Jan menyadari keraguanku.
Tanpa sadar aku mengangguk, kususut air mata, kemudian kami berjalan beriringan melintasi jembatan papan yang mulai lapuk menuju ke pasar. Baju kaos serupa berwarna pink kini tak lagi bersisa, aku memilih baju kaos warna kuning --secerah matahari terbit. Aku masih bisa tersenyum, namun pemberian baju kaos ini tak menyurutkan dendamku terhadap Marius. Aku tahu apa sesungguhnya yang disebut dengan kebencian –ketidakmampuan memaafkan.

                                                                ***
Siang itu sepulang sekolah Jan tampak sibuk mengemas perlengkapan serta pakaian ke dalam tas yang cukup besar. Mama dan Bapa diam menatap, ada rasa bangga sekaligus kehilangan yang dalam pada wajah  yang mulai menua itu. Wajah Jan tampak sendu, ia tak memiliki lagi pilihan, ia harus mengemasi seluruh pakaian serta perlengkapan atau tak akan mampu menatap masa depan. “Kakak mau kemana?” suaraku tiba-tiba serak.
Diam.
Tak ada jawaban, dinding rumah pun membisu, angin seakan letih berhembus, suara daun gugur terdengar seakan rintihan, “Kakak Jan ….” kata-kataku tak berlanjut.
“Kakakmu akan pergi untuk Pendidikan Catam.” Bapa menjawab dengan suara parau.
“Pendidikan apa itu?” aku bertanya.
“Jan mau menjadi Tamtama, menjadi tantara. Jam dua pagi kapal masuk, Jan akan berangkat,” Mama menjawab.
Aku tahu arti jawaban ini. Jan akan mengejar cita-cita menjadi tantara, hal itu berarti ia akan  menumpang kapal putih ke Merauke kemudian mengapung di udara dari Merauke ke Jayapura selama kurang lebih satu jam dengan pesawat Merpati. Sampai kapan Pendidikan itu? Akankah Jan kembali ke kampung yang sama tempat ia dilahirkan usai pendidikan? Atau kami akan berpisah selamanya? Aku terduduk di samping Bapa menyandarkan tubuhku yang tiba-tiba serasa lemah. Bila Jan pergi, siapa yang akan membela bila aku berkelahi dengan Marius atau Hengki? Aku harus menghadapi bedebah itu seorang diri.
Waktu seakan melayang seringan kapas ketika aku menunggu dini hari hingga kapal putih masuk, kami sekeluarga mengantar Jan ke dermaga. Seluruh kampung telah tertidur, kecuali bintang-bintang di langit malam yang tersisa hanya cahaya senter. Di sepanjang jalan tampak penumpang yang hendak pula berangkat, menitip barang, atau menjemput keluarga yang datang. Seorang berseragam loreng telah menunggu Jan di dermaga, ia akan membimbing Jan mengikuti tes hingga lulus untuk mengikuti Pendidikan Tamtama. Ada pula dua orang kawan Jan yang mengikuti tes serupa, kakakku tidak sendiri di dalam 36 jam pelayaran dengan kecepatan kapal 15 knot, 15 mil per jam.
Suasana benar gelap, kapal belum lagi sandar, kami menunggu pada udara yang semakin dingin, kurapatkan sehelai kain tua hingga tiba-tiba terdegar suara stom yang memekakkan telinga. Malam seakan terjagaa. Dari kejauahan tampak cahaya berkilau dari Kapal Pangrango, satu-satunya kapal yang menjadi sarana transportasi regular untuk datang atau pergi meninggalkan Wilayah Asmat. Sebelum kehadiran Pangrango yang mendatangi wilayah ini adalah kapal perintis, kapal karat yang telah siap tenggelam. Menjelang pergantian millennium ketika Kapal Bimas Raya II tenggelam di Kepulauan Habe menewaskan sekitar 500 penumpang termasuk orang-orang Asmat. Terjadi demonstrasi yang disertai kekerasan serta pengrusakan dengan tuntutan, hadirkan kapal penumpang yang layak ke wilayah pedalaman. Kapal penumpang yang layak itu kini telah menjadi bagian transportasi di Wilayah Asmat. Kapal yang akan membawa Jan pergi menuju masa depan.
“Tetaplah pergi ke sekolah supaya engkau menjadi  ibu guru seperti kata mama,” demikian Jan berpesan sebelum melangkah pergi, kupeluk tubuh tegap itu, untuk sekali dalam hidup aku merasa amat kehilangan. Bila terus kubiarkan air  mataku akan berubah menjadi kubangan danau, kutahan isak tangis, kulambaikan tangan dengan  ucapan selamat jalan. Kami masih tetap berdiri di dermaga hingga kapal bergerak menuju muara, aku masih terus melambai hingga cahaya Pangrango semakin jauh, semakin redup kemudian menghilang pada gelap. Dengan langkah gontai aku kembali ke rumah, sepasang mataku masih basah, demikian pula sepasang mata mama. Ia merasakan kehilangan yang sama untuk sebuah cita-cita.
Sore hari aku kembali berkelahi, kali ini dengan Hengki. Aku sungguh tak senang ketika bocah itu memamerkan jaket baru dengan keangkuhan, ia merasa dirinya lebih penting, karena dibelikan jaket sedangkan aku tidak. Ia melambai-lambaikan jaket dari hasil susah payah mama menjaring ikan, giginya tampak seakan taring, wajahnya kelam menyeramkan. “Sa pu jaket baru, ko tra punya apa-apa….” Berulang kali Hengki mengatakan hal yang sama, ia tak beda dengan sang kakak Marius yang usil dan jail.
Di tanganku adalah segelas teh panas, tanpa ragu kulemparkan isi gelas, tepat mengenai jaket baru Hengki hingga jaket baru itu basah kuyup. Anak itu tampak kalap, wajahnya merah padam, tetapi aku tak kalah marah. Andai ia memukul, aku pasti akan melawannya. Tangan Hengki berhenti di udara tertahan tangan kekar Bapa, ketika ia berniat memukulku. “Tak usah engkau pamer barang baru, jaket bodok itu….”
“Setan kecil itu membasahi jaketku!” Hengki memeberontak.
“Karena engkau mengejeknya,” suara Bapa dingin. Jan tengah berlayar mungkin dihantam gelombang di lautan, ia tak lagi beramaku untuk mengadapi kejailan Hengki dan Marinus tapi Bapa tetap ada.
Wajah Hengki masih semerah bara api, seakan ia berkuasa untuk melahapku. Kutantang tatapan matanya yang nyalang, tak sedikit pun tersisa rasa gentar, aku memiliki lebih dari sekedar keberanian untuk meghadapi Hengki yang tak juga tahu tentang membaca dan menulis, terlebih cerita tentang Putri Salju. “Sa lebih senang kalau engkau mati….” Andai tiada Bapa pasti aku sudah meludah, tetapi aku masih menghargai orang tua. Ludahku kusimpan jauh di balik bara api kesumat dendam, menunggu waktu yang tepat untuk melontarkan.


                                                                  ***

--Korowai Buluanop, Mabul: Menyusuri Sungai-sungai

Pagi hari di bulan akhir November 2019, hujan sejak tengah malam belum juga reda kami tim Bangga Papua --Bangun Generasi dan ...