Minggu, 02 Juni 2019

SCARLET HEART, RYEO --Roman di Bawah Absolut Monarki-- TUJUH BELAS

 


…. Angin seakan enggan berdesir, Hae Soo menyadari betapa teramat dekat jarak dengan Pangeran Wang So --nyaris tak ada. Akan tetapi, sosok itu kiranya tak mudah dijangkau. Tak mudah pula baginya berkata-kata, tetapi harus. “Bukankah pangeran pernah berkata, tidak mengapa  tidak menjadi raja, yang penting kita bisa selalu bersama. Kata-kata itu terlupakan kini, meski kita pernah berjanji tidak saling berbohong lagi”, pandangan Hae Soo menerawang jauh, ia mencoba bersikap tegar. Secara emosional ia terlibat terlalu jauh kehidupan di dalam dinding istana, kehidupan yang seringkali berubah menjadi sandiwara berlumuran darah.
“Aku harus memulai semua ini untuk mengakhiri pertumpahan darah. Saat membangun istana baru di luar sana,  aku tersadar dunia bisa berubah jika sang raja berubah. Aku tidak akan dikendalikan oleh siapapun, aku bisa menghentikan pertumpahan darah di lingkungan keluarga. Akhirnya  menjadi raja  adalah suatu keharusan”, Pangeran Wang So tidak ragu dengan kata-katanya, ia telah menelan asam garam sebagai pangeran yang bersetia terhadap seorang raja. Bila keturunan Wang Geon bisa menduduki tahta, mengapa ia tidak? Bukankah ia memiliki kemampuan untuk membuat perubahan sekaligus mengubah nasibnya sendiri? “Apakah engkau tidak suka jika aku menjadi raja?” Pangeran ke-4 bertanya.
“Benar, aku tidak suka, karena harus berpisah darimu”,  Hae Soo tak dapat menyembunyikan rasa galau, ada suatu hal yang mengesankan saat bersama Pangeran Wang So, bila sang pangeran ditakdirkan menjadi raja, adakah ia akan tetap bisa bersamanya? “Pangeran benar ingin menjadi  raja?” Hae Soo perlu menyakinkan diri dengan kembali bertanya, sebagai jawaban Pangeran Wang So menganggukkan kepala. Hae Soo menghela napas panjang, ia tahu tak akan dapat menghentikan kemauan dan takdir seseorang –jalan hidup seorang anak Raja Besar Wang Geon.
“Berjanjilah untuk tidak melukai siapapun, tak akan ada pertumpahan darah ketika Pangeran ke-4 akhirnya bertahta selaku seorang raja”, semula Hae Soo merasa gamang, tetapi ia melihat Pangeran Wang So mengangguk, merasakan tangan kekar Pangeran ke-4 menggenggamnya. Rasa gamang memudar, meski ia tak sepenuhnya yakin dengan jawaban tanpa kata sang pangeran. 
Pertemuan usai.
                                                                            ***
Hae Soo tengah memberikan secangkir teh kepada Yang Mulia Raja, saat penjaga gerbang berteriak akan kedatangan  Pangeran Wang So bersama pasukan yang siap menyerang. “Tutup pintu gerbang!” suara itu nyaris kalap, sang penjaga tahu dinding istana akan kembali dilumuri darah.
Di dalam istana tangan Hae Soo gemetar saat mengulurkan teh kepada Yang Mulia Raja Wang Yo. Ia semakin gugup dengan tatapan dipenuhi rasa curiga Sang Raja, sementara suara itu mendesis seakan terjulur dari lidar ular, “Adakah yang engkau rahasiakan? Apakah engkau menaburkan pula bubuk racun?” Yang Mulia Raja menolak cangkir teh, raut wajahnya mencerminkan rasa takut. Sekalian dayang telah mencicipi terlebih dahulu teh bagi Yang Mulia Raja, tak seorangpun celaka. Akan tetapi Raja Wang Yo telah dicengkeram rasa takut yang tak lagi mampu terkendali. 
“Kesehatanku semakin memburuk, semua karenamu”,  Raja Wang Yo merasa dingin menyergap seluruh tubuh, ia telah berulang kali menumpahkan darah demi singgasana tempatnya bertahta. Jauh di relung hati menggumpal rasa bersalah, karena kematian Raja Wang Mo, Pangeran Wang Eun serta sang istri Park Seon Duk. Akan tetapi, patutkan seorang raja mengakui kesalahan? Kini ia orang pertama di Goryeo dan dapat melakukan apa saja, termasuk menumpahkan kesalahan terhadap seorang kepala dayang. “Moo Hyungnim, Eun, dan istrinya Seon Duk. Bahkan Raja Taejo. Ah, semua yang telah tiada mengganggu pikiranku, mendatangi mimpiku. Semua salahmu, engkau menyamarkan bekas luka So, secara ajaib ia berhasil menurunkan hujan, merampas kursiku, merampas segala hal yang menjadi milikku”, kemarahan Raja Wang Yo tak terbendung bagai banjir kawah melumuri seisi ruangan. Ia ingin terus berucap, akan tetapi betapa lemah seluruh tubuh, betapa sesak saat mesti bernapas, betapa semakin kabur pandangan. Wajah Raja Wang Geon, Raja Wang Mo, Pangeran Eun, dan Park Seon Duk menatapnya berganti-ganti seakan bilah pisau yang tajam melukai. Yang Mulia Raja tahu, tanpa resti dari seisi istana ternyata tahta kerajaan bahkan tak akan dapat menyelamatkan seluruh hidupnya. Ia telah memisahkan diri dari kasih sayang kerabat dengan cara yang amat kejam. Sang Raja masih hendak berkata-kata, akan tetapi Ratu Yoo datang menerobos secara tiba-tiba, wajahnya cemas –teramat cemas.
“Wang So beserta pasukan  memberontak, menyerbu istana”, jemari lentik sang ratu terburu meraih sehelai kertas dan pena. “Tulis wasiat, bahwa engkau menyerahkan tahta untuk Jung. Sekarang”, tanpa ragu Ratu Yoo menyodorkan kertas dan pena kepada Raja Wang Yo. Satu tindakan yang membuat sang raja seakan dilempar pada suram terowongan waktu. Bukankah ia masih hidup, mengapa pula harus menulis wasiat untuk Jung?
“Kita tidak mungkin kehilangan takhta. Sekarang,  tulis wasiat, bahwa Jung akan menjadi raja baru. Masa depan masih di tangan kita”, tak pernah ada yang terlintas pada benak Ratu Yoo, kecuali tahta. Wang Yo telah sakit-sakitan tak dapat lagi memimpin kerajaan sekaligus menempatkan dirinya selaku ibu suri. Ia harus menetapkan seorang yang layak memimpin Goryeo, melindungi kedudukannya di kerajaan ini, Wang Jung. Pada detik terakhir sebelum pemberontakan Wang So mengakhiri kekuasaan Wang Yo. Sungguh, ia tak pernah bermimpi So akan bertahta sebagai raja.
Yang Mulia Raja Wang Yo menatap ibunda ratu dengan tenggorokan tercekik, tak mudah bersuara, tetapi ia harus berucap, “Ibunda, bila aku harus menulis wasiat bagi Jung, bagaimana kemudian nasibku? Sebenarnya aku ini anak bagi siapa? Apa arti seorang Wang Yo bagi seorang ibu? Apakah aku hanya pion yang dikorbankan untuk menduduki takhta? Ibu hanya memerlukan seorang anak yang mampu menduduki singgasana kemudian membuangnya ketika tak berdaya apa-apa”, terlambat bagi Raja Wang Yo menyadari, bahwa kasih sayang Ratu Yoo selaku seorang ibu  ternyata bukan tanpa alasan. Ibunda menyayangi dalam rangka memenuhi nafsu akan kekuasaan, kemudian mencampakkan tanpa belas kasihan ketika ia tak mampu lagi memenuhi keinginannya. Langit seakan berguncang, kepala Raja Wang Yo seolah  dihantam sebongkah batu. Ia memiliki seorang ibu berwatak jahat.
“Tulislah wasiat, atau masa depan akan hilang selamanya. Berikan tahta kepada Jung, sekarang “, sekali lagi Ratu Yoo memberikan perintah.
Raja Wang Yo menatap Ratu Yoo dengan asing, ternyata ia tak pernah benar mengenal seorang ratu yang harus dipanggil ibu. Di batas rasa sakit dan ketakutan, ia harus menyadari dihempas dengan kejam, kini ia sebatang kara dibantai cemas. Yang Mulia Raja memejamkan mata, pahit menyadari ia tak dapat lagi bersama dengan seorang ratu. “Pengawal, bawa Ratu Yoo keluar, sekarang”, tanpa menunggu perintah yang kedua kali pengawal membawa sang ratu meninggalkan ruangan.
Ratu Yoo terkejut, ia tak pernah menyangka Wang Yo akan bertindak tegas mengusir dari istana. Tanpa sadar sang ratu menjerit, menjerit. Akan tetapi, telinga pengawal seakan tuli, mereka hanya mempercayai satu hal, perintah seorang raja. Jeritan Ratu Yoo tak berarti apa-apa, seolah tiupan angin lunglai menyentak daun-daun. Di tempatnya berdiri Hae Soo diam terpaku, ia tengah menyaksikan akhir sejarah  seorang ratu yang serakah, yang tega mengorbankan takdir anak-anaknya.  Ratu Yoo hanya seorang yang tak pernah mampu memberikan rasa damai, terusir dari dinding istana yang megah.
                                                                         ***
Di tempat yang berbeda, dengan cemas Putri Yeon Hwa mengunjungi ibunda Ratu Hwangbo, tergesa berucap. “ Wang Wook tidak ada dimanapun,  Park Soo Kyung berpihak pada Wang So.  Penjaga Istana tidak akan sanggup melawan”, Putri Yeon Hwa tahu istana berada dalam keadaan genting, ia  harus melakukan sesuatu atau akan kehilangan segala-galanya.
Sementara Ratu Hwang Bo menanggapi kecemasan Putri Yeon Hwa dengan tatapan dingin,  ia tak perlu melarut dalam kecemasan seorang putri raja. Satu hal yang menyebabkan sang putri bingung. “Sesungguhnya engkau berhak pula memutuskan, tak mungkin seorang akan mendapatkan keduanya atau segala galanya. Aku gagal dalam membesarkan anak-anak, tetapi masih ada satu celah. Jika ingin mengambil alih istana, seorang harus mengorbankan sesuatu”, Ratu Hwangbo mengucapkan kata-kata dengan mudah, ia telah melampaui semuanya, ia harus cepat menentukan sikap dengan segenap tanggung jawab yang harus dipikul.
Putri Yeon Hwa terhenyak, seorang ratu tidak perlu mengucapkan kata-kata secara langsung, tetapi sang putri memahami makna tersurat di balik kata-kata itu. Persoalannya adalah pengorbanan. “Putuskan sekarang,  memiliki seluruh dunia, tapi tak bisa merasakan cinta. Atau  memiliki cinta, tetapi  dunia menjadi sangat  kecil”, Ratu Hwang Bo menegaskan.
“Bagaimana kalau aku ingin seluruh isi dunia?” Putri Yeon Hwa bertanya.
“Maka, ibu akan menyingkirkan Wang Wook”, suara Ratu Hwang Bo tegas.
***
Di halaman istana, Panglima Park, Pangeran Wang So,  dan Pangeran Baek Ah telah bersiap di atas punggung kuda lengkap dengan pakaian zirah, siap menyerang istana, menumbangkan raja yang lemah dan sakit sakitan. Jauh dalam hati Panglima Park tak percaya  harus menyerang istana, tempat termegah di Goryeo yang selalam selalu dilindungi. Di tangan Pangeran Wang So sebilah pedang tajam tampak berkilat, ia telah siap berperang untuk merebut tahta. Akan tetapi, sang pangeran mendapatkan sambutan yang sebaliknya.
Segalanya berlalu dengan cepat, ketika bayangan tubuh Putri Yeon Hwa yang semampai menampakkan diri dari balik dinding istana, wajahnya yang jelita tampak anggun, suaranya tanpa keraguan, “Aku akan membantu Hyungnim,  mendapatkan tahta tanpa pertumpahan darah dengan catatan tak akan pernah melupakan pertemuan kita hari ini”, sepasang mata yang jeli itu menatap wajah Pangeran Wang So dalam-dalam. Sesaat kemudian wajah jelita sang putri tersenyum ketika mendengar jawaban.
“Baik, aku tak akan pernah melupakan kesetiaanmu”, Pangeran Wang So tak pernah tahu sebuah rencana yang tersembunyi di balik senyum manis Putri Yeon Hwa. Ia bahkan tak pernah tahu isi hatinya, tetapi saat ini ia tak punya pilihan kecuali berjanji demi singgasana yang harus dituju. Wang Yo tak pantas menjadi raja, ia kejam, lemah, dan sakit sakitan.
Di dalam kamar Raja Wang Yo tertawa di luar kesadarannya, ia tak lagi memiliki penopang kuat yang dapat membantunya meduduki tahta. Andai Hae Soo, kepala dayang itu tidak pernah hadir di Goryeo, apakah takdirnya akan seperti ini? Wang So akhirnya mendapatkan semuanya, ia hanya seorang anak malang yang telah dicampakkan, ia bukan lagi siapa-siapa, kecuali korban keserakahan seorang ratu. Mengapa ia harus melakukan semua ini?
“Seperti halnya So, kukira  aku akan ditelantarkan, kecuali mengikuti semua keinginannya. Ibu berkata, aku sempurna dan bisa melakukan apa saja. Akan tetapi, engkau terlalu jauh ikut campur. Segalanya berantakan!” Raja Wang Yo berteriak kalap sambal mendorong Hae Soo hingga kepala dayang itu terjatuh ketakutan.
“Sekarang, siapa sebenarnya yang lebih berhak akan tahta? Jung? Wook? Baek Ah atau So?” Raja  Wang Yo meraih sehelai kertas dan pena tatapannya nanap, ia telah melihat puing-puing istana runtuh berserakan bersiap mengubur seluruh tubuhnya. Dalam jarak yang teramat dekat, Hae Soo menyaksikan detik-detik penghabisan seorang raja yang putus asa dengan jantung berdegup kencang. Ia tidak sedang bermimpi.
“Engkau seorang yang  cerdas. Mengapa tidak menentukan pilihan?” Raja Wang Yo kembali berteriak kalap dengan sisa tenaga, Yang Mulia masih hendak berucap, tetapi lidahnya kelu. Dari arah berbeda terdengar teriakan bergema, “Temukan  raja!” suasana menjadi gaduh, seakan sepasukan gajah dating mengamuk menghancurkan segala yang ada. Tergesa Yang Mulia Raja menulis pada selembar kertas kemudian memberikan pada Hae Soo.
“Aku hanya berusaha untuk bertahan hidup….” Suara itu terdengar seakan ratapan yang menyayat setiap telinga yang mendengar, kemudian tubuh Raja Wang Yo roboh terguling. Yang Mulia Raja benar merasakan seluruh dinding istana runtuh mengubur tubuhnya yang sakit-sakitan dan tak berdaya. Ia ingin kembali bangkit memutar undur jarum waktu untuk kembali mendapatkan tahta dengan cara yang berbeda, ia ingin memohon ampun bagi segala kesalahan. Akan tetapi, seluruh tubuhnya tak lagi bertenaga. Rasa sakit semakin menyayat, semakin menyayat tak teratasi. Langit-langit istana berubah menjadi gelap dan hitam, wajah Raja Wang Geon, Raja Wang Mo, Pangeran Eun, dan Park Seon Duk menatap dengan dingin, menuntut pembalasan. Ia memang telah berlaku semena-mena atas dorongan Ratu Yoo yang kini tega mencampakkannya. Sesaat kemudian Wang Yo merasa tubuhnya mengapung, ia dapat melihat raganya roboh tak berdaya di depan Hae Soo. “Aku telah mati ….” 
Pangeran Wang So datang tak lama kemudian dalam pakaian zirah, Yang Mulia Raja telah jatuh terguling setelah hembusan napas penghabisan. Di dekatnya tampak  Hae Soo terduduk  ketakutan dengan surat wasiat tergenggam di tangan. “Apakah engkau sudah membacanya?” Pangeran Wang So bertanya.
Sebagai jawaban Hae Soo mengelengkan kepala, untuk yang kesekian kali ia harus menyaksikan kematian seorang raja, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Ada yang lesap di hati. Ketika demokrasi belum lagi menjadi dasar kepemimpinan, maka tampuk kekuasaan harus dirampas dengan kematian demi kematian. Hae Soo tak peduli ketika Pangeran Wang So merobek surat wasiat yang ditulis almarhum Raja Wang Yo. Ia terlalu kacau dengan pengalaman hidupnya sendiri.
Ratu Yoo kembali hadir dengan tergesa, memerintah semua yang berada di kamar menyingkir. Darahnya tersirap ketika melihat Raja Wang Yo telah terkapar tak bernapas, putra yang dibangga banggakan telah tiada. Adapun Ji Mong merasa seluruh bulu kuduknya meremang ketika menyadari, bahwa Yang Mulia Raja telah tiada. Demikianlah akhir hidup seorang raja? Wajah ahli bintang itu nampak muram.
Tiba-tiba Hae Soo membungkuk memberikan salam kepada Pangeran Wang So, “Selamat kepada Yang Mulia Raja ….”
“Apa maksudmu? Raja?!!” Ratu Yoo menjerit, ia tak pernah menghendaki Wang So sebagai raja –tak akan pernah.
“Yang Mulia memberikan takhta kepadaku sebelum hembusan napas yang terakhir”, Wang So merasa perlu memberikan jawaban. Ratu Yoo membelalakkan mata lebar-lebar, tetapi pandangan matanya terasa kabur dan samar. Ia telah sampai pada suatu hari ketika mentari akan tenggelam selama-lamanya.
“Salam, Yang Mulia Raja.... Hidup Yang Mulia Raja!” Ji Mong dan semua pengawal berlutut memberikan hormat. Maka, Goryeo kembali mencatat sejarah baru.
Hari penobatan berlangsung dengan cepat, dengan pakaian kebesaran serta takdir akan tahta Pangeran Wang So kini resmi menjadi Raja Gwangjong, Raja Goryeo yang ke-4. Seisi istana hadir kecuali Pangeran Wang Wook dan Pangeran Wang Jung, keduanya tersenyum sinis akan penobatan ini. Mimpi menjadi nyata ketika Raja Gwangjong Wang So mengangkat symbol kerajaan yang terbuat dari emas, sebagai perlambang kekuasaan seorang raja. Seluruh        hadirin memberikan hormat.
Sementara di depan istana Hae Soo menunggu, penampilan  Raja Gwangjong pakaian kebesaran telah disaksikan dalam sejarah Goryeo. Ia telah melampaui masa itu kemudian melesat jauh ke depan. “Gwangjong,  Raja Goryeo ke-4 dikenang dalam sejarah sebagai raja bengis. Aku akan melakukan sesuatu untuk mengubah kenangan itu”, Hae Soo bergumam sambil menatap raja yang baru bertahta.
                                                                          ***
Di ruang baca yang sepi dan dingin Pangeran Wang Wook termenung, ia terjerembab dalam kekecewaan, terngiang kembali kata-kata ibunda “Mulai saat ini, Keluarga Hwangbo akan menggunakan kekuatan  untuk mengambil kedudukan ratu, bukan raja. Aku kecewa dengan sikapmu, semakin jauh kehilangan akal sehat, terpuruk dalam penderitaan yang mestinya dibuang jauh-jauh. Alangkah baiknya kau menjauhkan diri dari keluarga kerajaan.”
Tak lama kemudian Putri Yeon Hwa, wajahnya tetap jelita, tanpa banyak cakap sang putri bertanya, “Mengapa tidak hadir pada acara penobatan raja? Ketidakhadiran akan menimbulkan beragam pertanyaan, kecurigaan tidak bersetia dengan Yang Mulia”.
Pangeran Wang Wook terdiam beberapa tabuh sebelum menjawab, “Saat tiba di Seokyeong ternyata Wang Shik Ryum telah meninggal. Aku langsung mengirim perintah untuk menemukan pengikut Pangeran ke-4, dengan kabar ternyata orang yang duduk di kursi takhta sudah berubah. Seorang pemberontak yang melakukan pengkhianatan, menjatuhkan orang lain bahkan menjadi pahlawan. Kursi yang sebenarnya kuinginkan, Wang So merampasnya. Bukankah engkau pernah berharap aku yang duduk di singgasana?” pahit bagi Pangeran Wang Wook, impiannya berkeping-keping sebelum ia melangkah jauh untuk meraihnya. Bagaimana nanti nasib seorang pangeran bagi Raja Gwangjong, raja ke-4 Goryeo?
“Masih ada satu peluang, andai engkau bisa membantuku menjadi seorang ratu. Ratu Goryeo akan mampu bertindak sesuai kewenangannya, termasuk membalas dendam”, sepasang mata indah Putri Yeon Hwa menatap Pangeran Wang Wook penuh permohonan. Ketika keduanya bertatapan, tanpa sadar Pangeran Wang Wook mengangguk, sang putri menghela mapas panjang. Jalan menuju singgasana kembali membentang.
                                                                             ***
Raja Gwangjong Wang So memulai perkerjaan pertama selaku pemimpin Goryeo, membaca surat perintah untuk memindahkan ibu kota ke Seoknyeong. Pangeran Baek Ah hadir pula di tempat yang sama mendengarkan .”Surat ini sudah dibatalkan, buruh kerja paksa yang mengungsi, karena pembangunan itu akan digaji sesuai dengan beban  pekerjaan  dan akan dipulangkan ke kampung halaman masing-masing”.
“Bagaimana dengan pekerja yang  meninggal saat pembangunan berlangsung?” Pangeran Baek Ah bertanya.
“Bila ada permintaan dari pihak keluarga harap dikabulkan, berikan pekerjaan lain serta ganti rugi. Lakukan hal yang sama untuk  pekerja yang terluka”. Sesaat Yang Mulia Raja terdiam sebelum bertanya, “Cukup tugas kita sudah malam ini?”
“Yang Mulia, kepala dayang Hae dari Damiwon telah lama menunggu”, jawab  perdana menteri.
“Adakah ia Hae Soo?”
Di tempat menunggu Yang Mulia Raja, Hae Soo merasa lelah dan mengantuk,  ia tertidur pada sandaran  pembaringan raja. Tak berapa lama kemudian Yang Mulia Raja bersama Pangeran Baek Ah dan perdana menteri datang mendekati Hae Soo yang tertidur pulas. Kehadiran itu membangunkan Hae Soo, tergesa kepala dayang itu berdiri, membungkuk dengan takzim sebagai penghormatan kepada seorang raja.
“Maafkan lama menunggu”, Yang Mulia Raja tersenyum, kehadiran Hae Soo selalu memberikan rasa damai terlebih ketika wajah lembut itu tampak pula tersenyum manis.  Pangeran Baek Ah memahami arti senyum itu,  demikian pula perdana menteri yang menyertai dibelakangnya. Yang Mulia Raja dan kepala dayang Hae tak terpisahkan. Perdana menteri tanggap membaca  keadaan, ia mengundurkan diri, memberikan waktu bagi Yang Mulia, Pangeran Baek Ah, serta kepala dayang Hae untuk sebuah pertemuan yang bersifat pribadi.
Ketiganya kini duduk bersama menghadapi meja makan seakan sahabat yang telah lama tiada bersua, melupakan, bahwa Wang So kini telah dinobatkan sebagai Raja Gwangjong. Yang Mulia Raja memberikan daging di mangkuk Pangeran Baek Ah, ia tahu adinda menggemarinya. “Terima kasih Yang Mulia Raja”, Pangeran Baek Ah menganggukkan kepala.
“Kita hanya bertiga, panggilah aku Hyungnim, dan hanya engkau”, Wang So yang kini Raja Gwangjong amat menyayangi Pangeran Baek Ah, suasana menjadi hangat ketika seorang berada di dekat yang disayangi.
“Baik Yang Mulia ….” Pangeran Baek Ah kembali mengangguk, ia tersanjung, mendapatkan suatu hal istimewa dari seorang raja.
“Panggil aku Hyungnim….” Yang Mulia Raja  kembali mengingatkan. 
Hae Soo tersenyum simpul, ia menggeser kursi, meletakkan sebutir telur ke piring Pangeran  Baek Ah. Sang pangeran yang semula tertunduk seketika berdiri, membungkuk ke arah Yang Mulia Raja, “Terimakasih”. Tawa Hae So dan Yang Mulia Raja seketika terpecah, Pangeran Baek Ah bingung –adakah suatu hal yang keliru?
Akhirnya Pangeran Baek Ah tergelak ketika menyadari orang yang memberikan sebutir telur adalah Hae Soo, bukan Yang Mulia Raja. “Ah, senangnya bisa berkumpul bersama tanpa rasa takut, karena ancaman dari seorang yang berkuasa”, wajah Yang Mulia Raja tampak bahagia, ia tengah mendecap rasa manis sebagai orang yang paling berkuasa di Goryeo. Ia tidak bisa diperintah siapapun, sebaliknya ia bisa diperintah siapapun.  Kebahagiaan tampak pula pada wajah rupawan Pangeran Baek Ah, selama ini ia tersingkir dari istana, hanya Pangeran Wang So yang berkenan menyapa. Kini setelah sang pangeran menjadi orang pertama, siapakah yang akan dapat menyingkirkan?
“Hidangan terasa lebih lezat, karena makan bersama ….” Hae Soo melarut dalam  kebahagiaan itu, setelah duduk di singgasana, sikap Yang Mulia Raja tak pernah berubah.
Usai menghabiskan hidangan lezat Pangeran Baek Ah berpamit, sementara pelayan membersihkan seluruh gelas dan piring kotor Yang Mulia Raja merasa lelah dan mengantuk. Ia membaringkan diri kemudian  memejamkan mata, ia pulas dalam waktu yang singkat
Hae Soo menarik selimut bagi Yang Mulia Raja, ia ingin tidur yang lelap bagi seorang raja yang telah ditakdirkan bagi Goryeo. Akan tetapi, tiba-tiba Yang Mulia Raja terjaga dalam sebuah mimpi buruk wajahnya menampakkan keterkejutan. Hae Soo mengalami hal yang sama, karena Yang Mulia Raja terbangun secara tiba-tiba. Ia terpaku ketika Raja Gwangjong memeluknya erat-erat. “Apakah engkau akan meninggalkanku?”  Yang Mulia Raja tampak benar takut kehilangan.
“Saya akan pergi setelah Yang Mulia tertidur, seharian pasti sangat melelahkan”, Hae Soo menghibur.
“Mengapa harus pergi setelah aku tertidur, mengapa tidak tinggal serta di kamar ini?” Yang Mulia Raja menarik seluruh tubuh Hae Soo berbaring bersamanya.
Keduanya kini saling menatap, ada beragam bahasa tak terucap, akan tetapi masing-masing pihak telah tahu apa arti bahasa itu. Yang Mulia ingin bertindak lebih dari sekedar menatap dan berbaring, akan tetapi Hae Soo menahan diri untuk tidak bertindak terlalu jauh, “Yang Mulia baru saja dinobatkan sebagai raja, sekarang bukan saatnya”, Hae Soo harus berhati-hati bertindak.
“Aku selalu memerlukan kehadiranmu. Telah tiga raja menempati kamar yang sama kemudian tiada, bahkan meninggal di tempat  ini, dinding dinding menimbulkan rasa gelisah. Sendiri di kamar ini napas terasa sesak. Tidakkah engkau bisa tinggal bersamaku?” Yang Mulia Raja meminta.
Hae Soo terdiam.
“Adakah engkau bisa menceritakan  satu kisah sebelum saatnya tidur?”
“Sebuah kisah tentang seorang raja?” Hae Soo balik bertanya, mengapa tiba-tiba Yang Mulia bersikap bagai kanak-kanak yang memerlukan pula dongeng sebelum tidur?
Yang Mulia Raja menganggukkan kepala. Hae Soo menghela napas  panjang. Ia memerankan kehidupan aneh yang tidak bisa diceritakan dengan akal sehat, tetapi demikianlah kenyataannya. Maka ia mulai berucap dengan dasar khayalan. “Dahulu kala, hiduplah manusia serigala yang membunuh  seorang gadis kecil berkerudung merah….”  Hae Soo mengawali cerita sambil menepuk punggung Yang Mulia Raja hingga sepasang mata Raja Gwangjong mengatup. Hae Soo terus bercerita hingga tak lama kemudian Yang Mulia Raja terlelap di pangkuannya. Wajah itu tampak begitu damai. Hae Soo masih bercerita hingga ia tiba-tiba merasa lelah dengan segala kata, sepasang matanya terasa demikian berat seakan digayuti sebongkah batu. Segala benda di kamar Yang Mulia Raja mengabur, Hae Soo terlena, ia tak lagi menyadari dimana sesungguhnya diri berada. Kepala dayang itu kehilangan seluruh tenaga, tertidur lelap pula.
Keesokan harinya ketika terjaga, Hae Soo tertegun ketika mendapati dirinya berada di kamar Yang Mulia Raja. Dimana Raja Gwangjong yang terlelap di pangkuan, karena dongeng anak-anak yang diceritakan?  Bayangan raja besar itu kini tak ada, ia tak dapat menghirup wangi tubuhnya. Hae Soo membenahi dirinya, merapikan pembaringan di sekitarnya kemudian bergegas kembali ke Damiwon. Adakah ia telah melakukan kesalahan? Tertidur di kamar Yang Mulia Raja pada malam pertama setelah penobatan. Ia pernah mengharap Pangeran ke-4 menduduki tahta, setelah benar Pangeran Wang So dinobatkan  menjadi Raja Gwangjong, ia harus menyadari jarak kiranya semakin meregang, meski sikap Yang Mulia Raja tak pernah berubah.
Hae Soo bersyukur ketika ia bisa berbincang dengan Woo Hee, ”Benar aku pernah ingin Pangeran ke-4 menjadi raja, akan tetapi untuk rentang waktu yang lebih lama. Aku telah bermalam di kamarnya ….” Hae Soo tak bisa  mengerti, adakah ia telah melakukan suatu hal yang benar?
“Yang Mulia telah dinobatkan, kini menjadi pemimpin Goryeo. Benar Yang Mulia telaha menikah dengan Putri Kyung Hwagung, tetapi sang putri menjadi biksu wanita. Singgasana  ratu belum terisi, kuharap engkau harus berhati-hati, terlalu banyak orang memberikan perhatian”,  Woo Hee memberikan saran, ia memahami kegelisahan kepala dayang itu.
Percakapan singkat itu terhenti, Chae Ryung tiba-tiba datang dengan wajah panic, “Soo ….” Sebelum Chae Ryung sempat berkata-kata, seorang pelayan datang, dengan sinis, “Ratu Yoo  ingin bertemu kepala dayang Hae”.
Hae Soo tak membuang waktu, ia segera menemui Ratu Yoo yang tengah bersama pula dengan Pangeran Wang Jung. Kepala dayang itu membungkuk memberikan hormat,  ia menduga-duga hal penting apa yang hendak disampaikan seorang ratu, sehingga memerlukan kehadirannya. Tatapan sang ratu menyebabkan jantung Hae Soo berdegup lebih cepat.
“Aku sengaja memanggilmu untuk satu pertanyaan. Jung, bicaralah”, suara Ratu Yoo dingin, akan tetapi sepasang matanya tampak mulai berkobar oleh pijar api.
“Kertas ini ditemukan di kamar mendiang Raja, adalah titah terakhir Yang Mulia”, Pangeran  Wang Jung mulai berucap, pada tangannya tergenggam sehelai kertas.
“Aku yakin kertas ini berkaitan dengan penerus tahta. Benarkah nama So tertulis?  Benarkah  mendiang Raja menyerahkan tahta untuk So?” Ratu Yoo bertanya, tatapannya menikam, Hae Soo merasa bulu kuduknya meremang.
“Jika takut menyampaikan hal yang sebenarnya, kami bisa melindungi. Yang penting adalah kejujuran. Benarkah mendiang Raja menyerahkan tahta kepada So Hyungnim?” Pangeran Wang Jung juga bertanya, ia tak percaya pada wasiat mendiang raja hingga Wang So dinobatkan.
“Benar”, suara Hae Soo halus, ia yakin dengan jawaban itu.
“Bohong, aku tahu siapa Yo, aku juga tahu sipa So. Yo tidak akan pernah  melepaskan tahta kepada So. Jawab, katakan yang sebenarnya!” Ratu Yoo berteriak kalap sambil menguncang-guncangkan tubuh Hae Soo. 
“Cukup! Hentikan...!”  tiba-tiba Yang Mulia Raja telah hadir pula di tempat yang sama. Tangannya yang kekar segara meraih tubuh Hae Soo berdiri disampingnya. Hae Soo benar-benar ketakutan, tanpa sadar ia mengenggam erat tangan Yang Mulia Raja, ia terlupa tengah menyentuh tangan seorang penguasa Goryeo.
“Ibu bisa bertanya padaku, kenapa harus bertanya kepadanya?” Yang Mulia Raja memberikan teguran, ia tahu Ratu Yoo sangat membenci Hae Soo.
“Mengapa engkau harus merobek titah yang ditulis Yo? Kau kira aku mempercayai kebenarannya?”  setiap kali menatap Wang So, Ratu Yoo selalu merasa geram. Semakin geram ketika menerima kenyataan pahit, anak yang tidak dikehendaki hadir bahkan dinobatkan menjadi raja.
“Aku tidak pernah merobeknya? Aku tidak tahu alasan Yo Hyungnim merobeknya, ia meninggalkan pesan terakhir,  menyerahkan tahta kepadaku, mengapa harus ragu”, Yang Mulia Raja menjawab tegas. Genggaman tangan Hae Soo semakin erat, ia memang telah menyembunyikan sesuatu yang akan merubah takdir Goryeo selamanya. Merubah nasib Pangeran Wang So, Ratu Yoo dan sesisi istana.
“Yo memiliki seorang putra, mengapa harus menyerahkan tahta kepadamu?” Pangeran Wang Jung tak percaya.
“Kalau masih ragu, silakan datang ke alam lain, tanyakan kepada roh Yo Hyungnim”, suara Yang Mulia Raja sinis, ia tahu Ratu Yoo tak pernah menginginkan kehadirannya di istana, terlebih kedudukannya selaku raja. Ibunda ratu telah menyeret pula Wang Jung untuk membencinya. Ia telah memutuskan menduduki tahta untuk memenangkan seluruh hidup. Ia tak akan membiarkan seorang ibu untuk terus menerus bertindak aniaya.
“Lebih baik Yo Hyungnim turun tahta. Atau terpaksa aku merebutnya? Darah akan tertumpah. Mengapa ibu suri tidak menyelenggarakan upacara, berdoa bagi mendiang raja? Aku akan mengunjungi ibu sesering mungkin di tempat upacara”,  Yang Mulia Raja menatap Ratu Yoo dengan sikap dingin, tiba waktu untuk menentukan sikap.
“Engkau tak pantas memanggilku ibu suri”, wajah Ratu Yoo merah padam, telinga terasa nyeri  karena sebutan itu.
“Ketika seorang anak dinobatkan menjadi raja, seorang ibu pasti akan dipanggil ibu suri”, Yang Mulia Raja bersikap tegas layaknya penguasa yang tidak dapat dilawan.
“Engkau mencuri tahta Wang Yo!” Ratu Yoo menjerit.
Raja Gwangjong tak perlu mengindahkan jeritan itu, ia telah memenangkan takdir hidup dengan sebuah cara. Bahkan seorang ratu tak dapat menghalanginya. Sang raja membimbing Hae Soo pergi, tak perlu berlama-lama di tempat ini, udara menjadi semakin panas seakan meleleh. Tak ada manfaat bersitegang dengan Ratu Yoo, seorang ratu yang serakah dan kalah.
“Sampaikan pada keluarga di Chungju aku ingin bertemu”,  Ratu Yoo memberikan satu perintah kepada Pangeran Wang Jung. Di atas kepala langit tiba-tiba menjadi gelap, Ratu Yoo merasa dadanya sesak. Wang So nyata nyata telah mengalahkannya.
Sementara Yang Mulia Raja Wang So perlahan menarik tangan Hae Soo hingga tiba kembali di depan pintu singgasana. “Jangan pernah memenuhi panggilan Ratu Yoo tanpa seijinku”, Yang Mulia Raja memberikan peringatan, ia tahu Ratu Yoo tak pernah memiliki niat. Sebagai jawaban Hae Soo menganggukkan kepala, ia telah melakukan hal yang tolol dengan memenuhi panggilan seorang ratu.
“Ingat, engkau memerlukan ijin seorang raja untuk memenuhi panggilan siapapun. Aku bertanggung jawab atas keselamatanmu. Mengerti?” tanpa menunggu jawaban Yang Mulia Raja menuju singgasana, Hae Soo berniat mengikuti, tetapi perdana menteri menghalangi, seorang kepala dayang tidak diperlukan kehadirannya di singgasana.
Raja Gwangjong kini memenuhi haknya kembali duduk di singasananya, mendengarkan laporan Ji Mong, “Beredar kabar, sementara orang percaya, seharusnya  Kyung Chun Won Keun yang seharusnya menjadi raja. Menteri Luar Negeri Park Young Gyu bahkan  mengira Wang So berbohong tentang permintaan terakhir mendiang raja”.
“Seorang yang tidak mempercayai hal yang semestinya, aku Raja Gwangjong Wang So berhak menduduki tahta, tak pernah layak untuk hidup lebih lama. Ia  ibarat duri di dalam daging yang harus dipatahkan.  Ia seorang pengkhianat. Bunuh”,  Yang Mulia Raja tampak sangat marah, ia dengan kukuh mengucapkan titah yang  mengejutkan Ji Mong. Yang Mulia menampakkan sifat yang sesungguhnya.
“Hukuman bagi setiap pengkhianat adalah mati. Tangkap semua pengikut mendiang raja, dayang, dan tentara yang berada di Cheondeokjeon yang meragukan titah penerus tahta. Tak satupun lolos, tak satu orang pun akan terluput”,  tegas suara Raja Wang So, ia tidak ragu. Ia tidak akan dapat hidup satu dinding dengan seorang pengkhianat, musuh dalam selimut yang dapat menikamnya diam-diam.
Di tempatnya berdiri Ji Mong terpana, sepasang matanya nyaris meloncat dari kelopak. Ia tak pernah menduga Yang Mulia Raja akan bertindak demikian tegas dan kejam untuk melindungi tahta.  Apakah menyingkirkan seorang pengkhianat harus dengan hukuman mati? Diam-diam bulu kuduk Ji Mong meremang.
                                                                           ***
Menteri Park tergesa menemui Woo Hee, kabar burung bersiul Yang Mulia  Raja memerintah pengawal menangkapnya, hidupnya berakhir sudah. Ia masih ingin mendapatkan secercah harapan, ia masih ingin hidup. “Akankah hidupku berakhir sampai di sini?” sang menteri galau. Siapakah yang berniat mengetahui lebih dini hari kematian?
“Bukankah kabar, bahwa titah mendiang Raja Wang Yo bohong memang harus dipertanggungjawabkan?” suara Woo Hee dingin.
“Adakah aku juga harus mengatakan yang sebenarnya, engkau memata-matai Pangeran ke-4 yang kini adalah Raja Gwangjoing dan Pangeran Baek Ah?  Adakah engkau mengira aku akan mati seorang diri?” nada suara Menteri Park mengancam.
Sepasang mata indah Woo Hee berkilat, ia tahu Menteri Park tidak sedang bermain-main, nasibnya kini berada di ujung tanduk. Wanita cantik itu cepat berpikir cepat pula bertindak, jemarinya yang lentik meraih pisau kecil yang tersembunyi didalam gantungan, tanpa banyak cakap ia  mengayunkan tangan hingga mata pisau itu membenam di punggung Menteri Park, menembus jantung. Tubuh kekar sang menteri terhuyung-huyung, rintihannya menyayat, ia tak pernah  menduga hari terakhir akan datang lebih cepat dari dugaannya. Ketika akhirnya tubuh Menteri Park terbanting dengan suara berdebum, Woo Hee menghela napas panjang –seorang pengkhianat layak dihukum mati!
Kemudian mulut Woo Hee membungkam –membungkam. Bukankah setiap orang berhak memiliki rahasia? Ia masih membungkam saat bertemu kembali dengan Pangeran Baek Ah, tangan sang pangeran meraih gantungan yang tampak usang “Sudah using, lebih baik diganti”, ucap Pangerana Baek Ah setulus hati.
“Tidak ….”  Woo Hee menggenggam kembali gantungan itu, benda using yang tidak perlu digantikan, karena menyimpan kenangan pribadi.
Benda ini  pemberian orang tuamu?” Pangeran Baek Ah bertanya, Woo Hee mengangguk.
“Sepertinya aku harus melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh orang tuamu”, Pangeran  Baek Ah tak pernah bosan menatap wajah  Woo Hee, ia benar mengasihi wanita ini.
“Apa yang membuat orang tuaku tidak senang?” Woo Hee balik bertanya.
“Sebelum menikah. Kita harus membuatmu terdaftar sebagai anak angkat dari keluarga baik-baik”, tak mudah bagi Pangeran Baek Ah menyatak hal ini, tetapi harus. Ia tak pernah mampu kehilangan Woo Hee.
“Karena aku berasal dari Hubaekje?” wajah Woo Hee menjadi muram.
“Nenekku masih ingat  kejadian yang di Gyunhwan. Keluarganya dibunuh di depannya, nenek selalu tak mau berurusan dengan orang yang berasal dari Hubaekje. Akan tetapi, semua itu terjadi sebelum kita lahir. Lagipula Gyunhwan tak memiliki hubungan apa-apa denganmu. Aku hanya ingin menghindari masalah yang mungkin  terjadi. Aku akan ziarah ke makam orang tuamu dan minta maaf pada mereka”, Pangeran Baek Ah menjelaskan rencananya.
Di pihak lain Woo Hee terdiam,  terngiang kembali kata-kata Mentri Park,  “Jika hubunganmu  terungkap,  Pangeran Baek Ah juga takkan aman”. Woo Hee menghela napas panjang, ia berada pada keadaan yang sangat sulit. Ia tahu Pangeran Baek Ah tidak sedang bermain-main, betapa langkahnya terasa semakin jauh. Dimanakah ujung jalan penghabisan?
“Tak ada persoalan buatmu?” suara Pangeran Baek Ah lembut.
“Raja Pendiri Goryeo membunuh orang tuaku dan rajanku membunuh keluargamu. Apakah semua ini bukan persoalan?” kekhawatiran Woo Hee tak terbendung, ia terperangkap ke dalam dendam lama yang belum juga padam. Bahkan pijar api kian berkonar.
“Pembunuhan itu bukan salahku  dan itu juga bukan salahmu. Masih ada celah bagi kita berdua untuk selalu bersama. Kecuali engkau tak menghendaki kehadiranku, kita tak akan pernah  berpisah. Aku tidak akan melepaskanmu”, Pangeran Baek Ah tidak sedang berpura-pura mengucap kata.
Woo Hee terdiam, pikirannya menerawang jauh –jauh sekali…
.
                                                                            ***
Jenderal Park Soo Kyung menatap Yang Mulia Raja Gwangjong dengan gamang, tiba-tiba ia merasakan usianya semakin tua. Dapatkah ia memaafkan Yang Mulia Raja, setiap saat terbayang wajah putri tercinta, Park Seon Duuk dan Pangeran Wang Eun. Kenangan manis itu kini telah dilumuri darah, tak mudah ditinggalkan anak sekaligus menantu dengan tragis. Andai Pangeran ke-4 tidak memenuhi permintaan Raja Wang Yo untuk membantai keluarga pengeran yang membangkan. Park Seon Duuk masih akan bersanding bahagia bersama Pangeran Wang Eun, ia bisa menjalani masa tua dengan damai serta mengabdi kepada raja selanjutnya dengan lapang dada. Dapatkah ia menjadi jenderal bagi seorang raja yang telah membantai anak serta menantunya? 
Sang  jenderal telah menimbang berhari-hari sebelum memberanikan diri menghadap Yang Mulia Raja. “Beribu maaf Yang Mulia, usia saya semakin tua, kesehatan terus memburuk. Kampung halaman memanggil pulang. Tiba saat bagi seorang jnderal untuk mengundurkan diri, menjemput hari tua. Akan ada jenderal lain yang lebih tangguh menggantikan, Goryeo akan tetap jaya”,  Jenderal Park Soo Kyung berucap dengan hati-hati, ia telah berhadapan dengan seorang raja yang berwenang melakukan apa saja.
“Jenderal masih tampak muda dan sehat, Goryeo memerlukan seorang jenderal yang tangguh. Jangan pergi ….” Yang Mulia Raja meminta, apa yang akan terjadi pada Goryeo tanpa seorang jenderal yang lihai di medan perang? Sanggupkan ia kehilangan seorang jenderal?
“Seluruh sudut istana selalu menampakkan wajah Park Seon Duuk dan Pangeran Wang Eun, andai Yang Mulia adalah Jenderal Park Soo Kyung yang ditinggalkan dan selalu merasa kehilangan?” suara itu menahan isak tangis. Sepasang mata Jenderal Park menatap wajah tampan Raja Gwangjong, ia tahu tak akan mampu menatap wajah itu lebih lama lagi.
“Jenderal Park….” Suara Yang Mulia tertahan, ia dapat melihat wajah muram jenderal itu. Ia tak pernah berniat membantai Pangeran Wang Eun dan Park Seon Duuk, ia tidak berseteru secara pribadi. Andai Raja Wang Yo tidak memerintah dengan kejam. Lidah Yang Mulia Raja terasa pahit, ia tahu alasan sesungguhnya seorang jenderal mengundurkan diri. Dapatkah ia menahan? Dapatkah ia menghalangi langkah damai seorang ayah yang kehilangan putri tercinta?
“Saya selalu yakin Gwangjong akan menjadi seorang raja yang adil dan bijaksana bagi Goryeo”, Jenderal Park Soo Kyung memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam kemudian mengundurkan diri, meninggalkan istana. Ia tak pernah ragu dengan tindakannya.
Suasana hening ketika langkah Jenderal Park Soo Kyung tak lagi terdengar menjejak lantai instana. Yang Mulia Raja termangu, apa arti seorang raja tanpa kesetiaan seorang jenderal? Siapa yang akan diperintah ke medan perang? Siapa yang akan menjadi benteng peneguh ketika terjadi kekacauan? Lama Yang Mulia Raja termangu, ia bahkan tak sempat membela diri di depan seorang jenderal.
Ketika Hae Soo datang, Yang Mulia Raja masih juga termangu. Ia harus mempelajari satu hal penting dalam menata pemerintahan. Alasan seorang jenderal setia kepada seorang raja? Ia akan ditinggalkan, karena telah merampas kehidupan anak-anaknya. “Ada yang salah Yang Mulia?” Hae Soo bertanya, ia melihat mendung bergayut pada wajah tampan seorang raja.
“Jenderal Park telah pergi, ia tidak dapat melupakan Park Seon Duuk dan Wang Eun, tanganku telah memisahkannya. Ia tak berkehendak untuk selalu menatap wajahku”, Yang Mulia Raja menghela napas panjang. Ternyata seorang raja tak bisa ditinggalkan seorang diri, ia memerlukan beragam kesetiaan.
Hae Soo menatap wajah gamang itu dengan diam.
“Apakah engkau juga ingin tahu nama siapa yang ditulis dalam titah mendiang raja? Apakah engkau mengira aku mencuri tahta?” Yang Mulia Raja bertanya, ia berhak tahu isi hati Hae Soo yang terdalam berkaitan dengan tahta Goryeo yang sekarang.
“Saya tidak pernah memikirkannya. Tidak ada persoalan apa-apa dalam hal ini”, Hae Soo menjawab.
“Tak ada nama siapapun. Tak satupun nama tertulis di kertas itu”, Yang Mulia Raja perlu menyatakan hal yang sebenarnya. Mendiang Raja Wang Yo tak pernah meninggalkan wasiat, kecuali helai kertas kosong. “Maka aku merobeknya,  sebelum kekacauan terjadi. Dengan satu cara aku sudah mengambil alih istana. Kini aku seorang raja”, Yang Mulia Raja tak ragu menyatakan hal yang sebenarnya, ia tak  menghendaki adanya kekacauan serta pertumpahan darah. Beberapa saat sebelum Raja Wang Yo mangkat, ia memang telah bersiap mengambil alih kekuasaan.
“Yang Mulia sudah melakukan hal yang seharusnya”, Hae Soo tak punya jawaban lain kecuali membenarkan tindakan Yang Mulia Raja. 
“Park Soo Kyung meninggalkanku, Baek Ah menganggapku sebagai raja, bukan lagi keluarga. Bagi Choi Ji Mong aku hanyalah penebus kematian saudara tertua. Jung menganggapku sebagai pembuhuh. Ibu bahkan menganggapku seorang pencuri”, Yang Mulia Raja  mengeluh, mengenakan mahkota ternyata tak semudah penampakkannya. Siapakah pihak    yang sungguh-sungguh mendukungnya mampu menjadi seorang raja? Cukupkah dengan pernyataan kosong yang tak pernah tersurat?
Hae Soo kembali terdiam, perlahan wajahnya menjadi muram. Ia masih tak bersuara ketika Yang Mulia kembali berucap,”Ternyata kata-katamu benar, tahta menimbulkan rasa takut dan sepian”, Yang Mulia mulai merasakan beban berat seorang raja, ketika tak seluruh pihak memberikan restu. Terlebih ibunda ratu.
“Saya tak akan pernah meninggalkan Yang Mulia”,  lembut  tangan  Hae Soo menggenggam tangan Yang Mulia Raja, ia duduk di sebelah Raja Gwangjong kemudian menyandarkan  kepalanya. Dalam jarak dekat Yang Mulia Raja menatap wajah lembut Hae Soo, ia mencoba mempercayai kata-kata dayang itu. Akan tetapi, jauh di dasar hati muncul sejumput keraguan. Benarkah?
                                                                              ***
Hari berikutnya Hae Soo pindah ke Istana  Cheondeokjeon, ia menempati sebuah kamar pribadi sebagai kekasih raja. Chae Ryung, dayang sekaligus sahabat sejak awal mula membantu memindahka serta  memindahkan segala perlengkapan. Sepasang  matanya yang polos, takjub menatap megah istana raja. “Agasshi telah menempati kedudukan tinggi di Cheondeokjeon, bolehkan saya meminta sesuatu?” dayang itu bertanya.
“Apa permintaanmu?” Hae Soo balik bertanya, setiap kali menatap wajah polos Chae Ryung ada sehelai benang lembut yang menautkan rasa belas kasihan, ia selalu mengasihi dayang ini, melebihi dayang yang lain.
“Ketika terjadi penobatan raja baru, beberapa dayang boleh dibebaskan, saya juga termasuk dayang yang akan dibebastugaskan, harus meninggalkan Damiwon”, wajah Chae Ryung tampak muram.
“Bila engkau meninggalkan Damiwon kita akan jarang, bahkan mungkin tidak bisa lagi bertemu. Kemana engkau akan pergi?” wajah muram Chae Ryung menyebabkan  Hae Soo terpaku. Sanggupkah ia berpisah dengan dayang yang satu ini? .
“Saya tidak tahu  kemana harus menuju. Bisakah Agasshi membantu agar saya tinggal menetap di istana? Tolong bujuklah raja”, Chae Ryung menyatakan keinginannya. Beberapa saat Hae Soo terdiam, ia tidak pernah tahu keinginan terdalam yang tersembunyi di relung hati dayang itu, tetapi tidak ada alasan menolak. Tanpa sadar Hae Soo mengangguk.
Hae Soo juga  tak pernah  tahu, usai mengungkapkan keinginan Pangeran Wang Won sudah menunggu Cahe Ryung di depan lorong, “Bagaimana?” sang pangeran bertanya.
Agasshi  akan membujuk Yang Mulia Raja”, jawaban Chae  Ryung menyebabkan wajah Pangeran Wang Won tampak senang. Ia akan tetap memiliki kesempatan bila Chae Ryung  tetap tinggal di Damiwon.
“Tak bisakah saya tinggal bersama Yang Mulia?  Saya tidak tahu kapan bisa pergi meninggalkan  Istana?” kali ini Chae Ryun memohon.
“Chae Ryung, masih banyak yang bisa engkau lakukan untuk membantuku di sini. Saat waktunya telah tiba, maka aku akan mengeluarkanmu dari tempat”, Pangeran Wang Won membujuk, ia perlu menyakinkan seorang dayang tetap tinggal di Damiwon bagi sebuah keinginan.
                                                                               ***
Raja Goryeo ke-4, Gwangjong duduk di atas singasana, mengerjalan tugas-tugas rutin selayaknya seorang raja. Ia harus menghadapi beberapa permintaan, termasuk permintaan Pangeran Wang Jung. Kali ini sang pangeran mengajukan permintaan otonomi bagi wilayah Chungju, “Jadi Chungju akan  menjadi wilayah otonom, wilayah mandiri?” Yang Mulia Raja bertanya.
“Ya, demikianlah  kiranya”,  Pangeran Wang Jung tak pernah mempercayai isi surat wasiat yang telah dirobek, ia tidak yakin Wang So menduduki tahta dengan cara yang syah. Dapatkah ia tetap mendukung seorang raja dengan menjadi bagian dari Goryeo? Otonomi Chungju adalah salah satu jalan keluar.
“Aku juga dibesarkan sebagai cucu Tuan Yu Geung Dal. Apakah seluruh keluarga Tuan juga berniat menentangku, saat duduk menjadi raja?” Yang Mulia Raja menatap wajah Pangeran Wang Jung dalam-dalam. Seorang saudara kandung bahkan berani menentang, pasti atas dukungan Ratu Yoo. Yang Mulia Raja mulai merasakan beban menindih.
“Kami harus mempertimbangkan pendapat keluarga lain, ketika seorang raja bahkan tidak mendapat dukungan dari keluarganya sendiri”, Pangeran Wang Jung memberikan alasan. Ia sungguh tak mampu memberikan seluruhhidup bagi Wang So.
“Apakah engkau berniat memutuskan hubungan keluarga?” Yang Mulia Raja bertanya, ia harus bersiap kehilangan, memerintah Goryeo tanpa Pangeran Wang Jung, sekutu yang akan menentukan nasib Goryeo.
“Jika wasiat mendiang raja benar, kita  akan segera tahu”, tegas suara Pangeran Wang Jung, tanpa menunggu jawaban sang pangeran mengundurkan diri.
Choi Ji Mong segera membaca keadaan, seorang raja tidak sekedar dinobatkan, duduk di singgasana kemudian memerintah. Akan tetapi, harus mendapatkan dukungan dan pengakuan dari pihak keluarga serta seluruh klan di belakangnya, “Kita harus melakukan sesuatu kepada keluarga Chungju Yu, bila tidak keadaan aka menjadi genting. Wasiat mendiang raja memang harus dibuktikan atau Yang Mulia harus bersekutu dengan keluarga yang sama kuat dengan mereka”, demikian si ahli bintang memberikan saran.
“Ternyata sampai hari ini, bahkan akhir nanti aku tak pernah dianggap sebagai anaknya”, Yang Mulia Raja mengeluh, ia tak pernah menduga Ratu Yoo benar-benar tak pernah menghendaki kehadiran, terlebih kedudukan sebagai seorang raja. Ibunda benar mempunyai niat menyingkirkannya. Apa sebenarnya kesalahanku?
                                                                                  ***
Di dapur  istana Hae Soo dan Woo Hee sedang menyediakan hidangan --nasi herbal dalam bentuk hiasan, akan tetapi wajah Woo Hee tampak mendung, tatapan matanya menerawang jauh pada jarak tak terukur.  Ia telah menatap suatu hari yang gelap tak termaafkan, hingga akhirnya tersadar kembali pada kesibukan memasak, “Yang Mulia Raja pasti akan menyukai hidangan ini”, suatu hal istimewa bagi Woo Hee bias memasak bersama Hae Soo.
“Bukankah hadiah ini terlalu sederhana bila dibandingkan dengan kamar indah yang kuterima?” jawab Hae Soo, ia berniat memberikan suatu hal istimewa untuk menghibur sang raja.
“Soo.... andai aku berbuat salah  pada orang lain demi kepentingan pribadi. Suatu saat akan datang pembalasan bukan?” Woo Hee tidak menjawab, tetapi menanyakan sesuatu hal.
“Benar, kita tidak seharusnya menyakiti seseorang demi menyelamatkan kehidupan pribadi. Akan tetapi, kita juga tidak perlu terseret pada kesedihan hingga berlarut-larut. Hari lalu benar telah berlalu, meski bekas luka pada tangan tetap membekas. Setiap orang berhak akan kebebasan dan berbahagia ….” Hae Soo tak menyelesaikan kata-katanya, ketika sepasang matanya menatap wajah Woo Hee, darah gadis itu tersirap. Wajah cantik Woo Hee menyimpan misteri.
                                                                              ***
Hae Soo tengah berjalan bersama beberapa orang pelayan, akan tetapi ia dapat menangkap bayangan Pangeran Wang Wook seakan tengah menunggu. Hae Soo tahu, ia harus meluangkan waktu, ia memerintah pelayan untuk membawa semua barang-barangnya ke dalam kamar. Kini, ia hanya berdua dengan Pangeran Wang Wook, wajah tampan cendekiawan Goryeo itu sedemikian muram, “Akhirnya engkau memilih Wang So”, suara sang pangeran dingin. Bahwa Wang So dinobatkan menjadi raja, bahwa Hae Soo adalah kekasih raja telah merampas seluruh harapannya. Ia cuma seorang pangeran yang kalah dan kehilangan. “Engkau mengira aku seorang yang serakah,  karena menginginkan keduanya, tahta dan cinta. Sekarang, ternyata engkau adalah kekasih raja. Bila engkau adalah Wang Wook, dapatkah menerima dengan segala lapang dada? Siapa yang serakah?” wajah Pangeran Wang Wook sama dingin dengan suaranya.
Sesaat Hae Soo terdiam kehilangan kata-kata, seakan telah seribu tahun ia tak pernah bersua dengan Pangeran Wang Wook, seorang yang pernah menjadi seluruh harapan hidupnya. Seorang yang tega meninggalkan dirinya di halaman istana, di bawah hujan, saat ia mengemis bagi kehidupan Sanggung Oh. Betapa tipis batas antara cinta dan benci, betapa samar batas antara harapan dan keputusasaan. “Yang Mulia Raja tak pernah meninggalkanku, di saat diriku hanya seorang peminta-minta. Ia bersedia menanggung segala akibat ketika selalu bersamaku, Hae Soo seorang dayang yang malang”, akhirnya Hae Soo menemukan kata-kata yang tepat.
“Aku tak pernah berhenti bertanya. Mengapa engkau selalu bersikeras, aku tak akan pernah menjadi seorang raja?”  Pangeran Wang Wook tak bisa menahan diri.
“Aku tak pernah bersikeras akan hal itu.  Akan tetapi, bintang maha raja selalu bersinar di samping Pangeran Wang So. Raja Taejo tahu tentang hal itu. Tak ada yang salah pada diri Pangeran ke-8. Hukum alam dan takdir nyata sudah berkata”, jawab Hae Soo, ia tak pernah tahu apa sesungguhnya isi hati Pangeran Wang Wook. Kisah dengan cendekiawan Goryeo telah lama berlalu.
“Aku tak pernah percaya  adanya bintang raja, bintang yang tak ada artinya. Apa pula itu hukum alam dan takdir?” Pangeran Wang Wook membuang muka, nyeri di ulu hati menyadari Wang So mendapatkan kedua-keduanya,  tahta dan wanita. Ia hanya seorang pangeran yang terbuang dari megah serta kekuasaan seorang raja. Benarkah takdir hidupnya hanya sampai di sini? Pangeran ke-8 berjalan dan terus berjalan hingga kembali ke ruang baca.
Ia menatap gelang  yang pernah diberikan kepada Hae Soo, ia pernah memasangkan gelang itu untuk menutupi luka pada tangan Hae Soo, memintanya berjanji tidak akan melepaskan kemudian memberikan kecupan di keningnya. Ingatan Pangeran Wang Wook kembali melayang, ketika keduanya berjalan di atas tumpukan salju, Hae Soo sengaja menginjak jejak kakinya dan akhirnya hampir terjatuh, karena ia sengaja membuat langkah yang lebar. Wang Wook membantu dengan memegang tangan Hae Soo agar tak terjatuh. Pangeran Wang Wook teringat dengan kata-kata Hae Soo, “ Tak ada yang salah pada diri Pangeran ke-8. Hukum alam dan takdir nyata sudah berkata….”
Semua kenangan dan kata-kata itu kini menyakiti hatinya. Dengan marah Pangeran Wang Wook meraih palu, menghancurkan gelang itu. Semua kenangan dan harapan berakhir sampai di sini. Entah siapa sebenarnya dirinya saat ini? Ia  harus melakukan sesuatu.
Ketika tiba-tiba Putri Yeon Hwa datang ke tempat yang sama, Pangeran Wang Wook telah menemukan kata-kata, “Engkau akan segera menjadi ratu”.
“Benarkah? Engkau mendapatkan jalan  menuju ke tempat itu?” Putri Yeon Hwa membelalakkan sepasang matanya yang indah. Ia nyaris tak mempercayai kata-kata Pangeran Wang Wook, tetapi ia telah mendengarnya.
“Tak ada yang dapat memiliki segala-galanya di dunia. Cinta atau tahta? Mana yang harus engkau pilih?” Pangeran Wang Wook balik bertanya.
                                                                                     ***
Raja Gwangjong dan Hae Soo kini sepasang kekasih yang saling mencinta di atas tahta. Sang raja menulis:
            Aku menunggu di tepi danau, namun, awan mulai mendung.
Hae Soo meraih lembaran kertas itu berulang kali. Helai kertas dengan tulisan yang sama. “Mengapa aku harus menulis sebanyak ini?” Yang Mulia Raja bertanya.
“Tulislah sebanyak yang bisa ditulis, suatu saat Yang Mulia akan mengerti”, jawab  Hae Soo.
“Engkau pernah berkata  akan memberikanku sesuatu, karena mempersiapkan kamarmu, tetapi yang kuterima Cuma nasi herbal”, Yang Mulia mengeluh.
“Bukankah nasi herbal itu tandas tanpa sisa barang satu butir juga? Mestinya akan kuberikan pula kepada Pangeran Baek Ah dan Ahli Bintang Choi Ji Mong”,  Hae Soo tersenyum nakal.
“Engkau tak boleh memikirkan orang lain, hanya diriku. Engkau milikku”, senyum di wajah Yang Mulia Raja mengembang, ia mendapatkan kedua-duanya, tahta serta wanita yang dicintai. Di pihak lain Hae Soo bias menangkap, di balik senyum Yang Mulia Raja menyembunyikan sesuatu.
“Adakah sesuatu yang terjadi hari ini?” Hae Soo menekan rasa khawatir.
“Mengapa harus bertanya? Kita belum lagi menikah, jika terus bertanya, aku akan pergi jauh-jauh”, Yang Mulia Raja  masih mengulum senyum.
“Sepanjang hari aku harus menunggu. Apakah aku masih bisa meninggalkan pekerjaan di Damiwon? Meskipun tidak bekerja seorang diri, ada hal lain yang harus kukerjakan”, Hae Soo mulai menyadari betapa melelahkan pekerjaan itu. “ O ya, dan perihal Chae Ryung, benarkah ia akan dibebastugaskan dari Damiwon? Dia tidak tahu harus kemana? Tidak bisakah ia tetap meneruskan pekerjaan di tempat yang sama?” Hae Soo memiliki saat yang tepat untuk meminta, bukankah ia seorang kekasih raja?
“Aku tak pernah mengingat Chae Ryung dan tidak tahu akan hal itu”, jawab Yang Mulia singkat.
“Aku memerlukan kehadiran Chae Ryung, dayang itu banyak menghibur”.
“Baiklah, ia akan tetap bekerja di Damiwon”,  sesaat Yang Mulia Raja terdiam, dan sedcara tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. “Kita harus memiliki anak dan membesarkan mereka”, jauh di relung hati Yang Mulia Raja merindukan anak-anak, ia ingin Hae Soo adalah ibunya.
Hae Soo menatap wajah Yang Mulia Raja dengan bimbang. Mengapa pula seorang raja berfikir sejauh ini. Benarkah ia akan melahirkan seorang pangeran?
“Besok tabib kerajaan akan berkunjung, untuk memeriksa kesehatanmu, seorang ibu harus dipastikan dalam keadaan sehat untuk melahirkan seorang anak”,   Yang Mulia Raja telah mengatur sebuah rencana.
“Kita bahkan belum menikah, tetapi Yang Mulia telah memerintah seorang tabib memeriksa kesehatan untuk persiapan kelahiran?” Hae Soo tampak gugup.
“Kita bisa menikah pada hari yang engkau inginkan. Aku bahkan telah menantikannya”, Yang Mulia Raja bersungguh-sungguh dengan setiap ucapan, pertemuan dengan Hae Soo, hari-hari setelah itu menetapkan suat keputusan, ia tidak memilih orang yang salah. Ia tak akan pernah mampu kehilangan gadis ini.
“Pernikahan bisa terjadi setelah Yang Mulia melamar di menara pengharapan”, Hae Soo masih mengingat tempat itu, tempat yang pernah membuatnya  menunggu dengan kecewa,  Pangeran ke-4 mengingkari janji, karena alasan yang lebih penting.
“Aku hampir tak punya waktu untuk pergi ke tempat itu. Haruskah seorang raja melamar seorang gadis di  menara pengharapan untuk  menentukan hari pernikahan?” Yang Mulia Raja menghelas napas panjang. “Ternyata lebih rumit berurusan denganmu daripada pemerintahan”, Yang Mulia Raja menutup percakapan dengan keputusan tabib istana akan tetap memeriksa Hae Soo.
Keesokan harinya ketika tabib istana berkunjung untuk memeriksa kesehatan Hae Soo, wajah tua itu tampak murung. Ia kesulitan menyusun kata-kata, tetapi Hae Soo mendesak, ia  berhak tahu keadaan dirinya, “Katakan yang sebenarnya, apapun keadaan kesehatanku”.  Tabin melihat kalau lutut Hae Soo sekarang sangat lemah.
Sesaat suasana hening, tak mudah bagi seorang tabib untuk menyampaikan keadaan yang sangat buruk. Adalah suatu hal yang baik bagi setiap orang untuk tidak mengetahui kapan datangnya hari kematian. Adakah ia harus mengatakan? Wajah tabib istana semakin gelisah, keringat dingin mulai mengembun, ia berada dalam keadaan yang tidak mudah.
“Saat dipenjara kemudian disiksa, lutut ini cedera dengan parah dan tidak diobati dengan benar. Saat usia muda kaki masih dapat berjalan, akan tetapi ketika umur terus berlanjut saya tidak bias menjamin. Apakah kaki ini masih sanggup melangkah?”  tabib istana menatap wajah Hae Soo dengan gamang. Berapa panjang usia yang dapat ditempuh seorang kekasih raja?
“Baiklah, aku akan lebih berhati-hati terhitung mulai hari ini”, Hae Soo menghibur diri, sesungguhnya ia terkejut, karena keadaan lututnya sudah sedemikian buruk. Ia memang harus terpincang-pincang ketika melangkah, karena luka tak tersembuhkan.
“Dan sekali mohon maaf, kali ini perihal jantung. Saat bekerja berlebihan atau terkejut, apa dada terasa sesak? Apakah pernah kehabisan napas hingga terjatuh pingsan?” tabib istana kembali bertanya.
“Ya, pernah”, suara Hae Soo lemah.
“Rasa putus asa yang ditekan menyerang jantung. Ketika jantung lemah, tubuh manusia juga menjadi lemah. Dengan keadaan jantung seperti ini, seorang tabib paling ahli sekalipun tak dapat memperhitungkan berapa lama kemampuan seorang manusia bertahan hidup?” tabib istana menyatakan hasil pemeriksaan dengan getir, suaranya nyaris berbisik. Ketika saling bertatapan, ia menangkap ruangan hampa pada sepasang mata jeli kekasih raja.
“Berapa lama lagi aku akan bisa bertahan hidup?” suara Hae Soo bagai rintihan. Ia tidak pernah menyangka perintah Yang Mulia Raja untuk pemeriksaan kesehatan bagi kelahiran seorang bayi akan mendatangkan pernyataan seperti ini. Betapa mahal ternyata kehidupan? Betapa ia merindukan ribuan hari untuk selalu bersama dengan seorang kekasih yang dicintai?
Sesaat suasana diam, bahkan angin seakan enggan berdesir. Akan tetapi, Hae Soo tak hendak menyebabkan tabib istana merasa bersalah. “Aku akan baik-baik saja. Terima kasih telah berkunjung untuk pemeriksaan kesehatan”.
Hae Soo tahu kemana harus menidurkan rasa gelisah, ia menumpu dua batu di bawah pohon, memejamkan mata, berdoa, “Berapa panjang lagi waktu yang kumiliki? Usiaku baru dua puluh tahun. Aku akan merawat kesehatan supaya dapat hidup bersamanya lebih lama …. lebih lama….”
Saat Hae Soo tengah khusuk meminta, tiba-tiba Pangeran Wang Jung telah berdiri di sampingnya, bertanya. “Doa apa yang engkau panjatkan? Apakah engkau telah meminta supaya Wang So menjadi Raja Goryeo selama-lamanya”, kata-kata itu terdengar sinis.
“Tidak, aku meminta supaya Pangeran ke-14 yang gagah dan tampan dapat kembali menjadi sahabat yang baik hati”, Hae Soo menjawab dengan cepat.
“Engkau pernah berkata, tidak berpihak kepada siapapun. Ternyata engkau berkhianat, berpihak kepada Pangeran ke-4”, Pangeran Wang Jung tampak kesal. Ia kecewa, bahwa Hae Soo kini kekasih raja.
“Apakah kemarahan itu sudah pada tempatnya? Apakah engkau sudah terlupa, mendiang Raja  membunuh Raja Wang Mo. Atas perintah mendiang raja, Pangeran ke-10 dan Putri Jenderal Park terbunuh. Adalah takdir, bahwa Pangeran ke-4 akhirnya  menjadi raja”, Hae Soo selalu punya alasan menjawab.
“Mungkin kata-katamu benar. Akan tetapi, segala musibah terjadi setelah  So Hyungnim  kembali ke Songak terlibat perebutan tahta, segalanya berlumuran darah. Wang So mencuri singgasana. Aku khawatir semua orang akan berada dalam bahaya. Apakah engkau mengira bisa menjadi ratu?” wajah Pangeran Wang Jung tampak kelam, ia terseret bisikan ibunda Ratu Yoo yang merasa tertimpa musibah saat Wang So kembali ke Songak kemudian dinobatkan menjadi raja.
“Aku tak pernah berpikir untuk menhjadi seorang ratu”, darah Hae Soo tersirap. Ia tengah berdoa untuk bias hidup bersama Yang Mulia Raja selama-lamanya. Akan tetapi, menjadi seorang ratu?
“Seorang ratu adalah wanita cantik dan cerdas, memiliki klan besar yang dapat menjadi kekuatan seorang raja. Sebab itu Raja Taejo harus memiliki dua orang ratu serta dua puluh tujuh selir dari keluarga besar sebagai sekutu untuk mendukung kedudukannya. Apakah engkau mampu hidup seperti  itu, satu orang kekasih raja di antara ratu dan puluhan selir?” Pangeran Wang Jung telah mengerti, hakekat kehidupan seorang ratu, meski ia hidup sebagai wanita berkuasa sekaligus bergelimang harta. Memperebutkan cinta seorang raja bersama istri-istri yang lain bukanlah suatu hal yang mudah bahkan terlalu mengerikan. 
Sesaat Hae Soo terdiam, ia mencoba menyangkal kebenaran kata-kata Pangeran Wang Jung. Akan tetapi, ketika bertatapan kekasih raja itu membuang pandang. Ia telah terlibat langsung dalam  kehidupan di istana. Ucapan Pangeran Wang Jung benar adanya.
“Lalu bagaimana dengan impianmu? Naik unta di gurun dan berlayar di lautan? Bukankah engkau masih menginginkannya? Andai kehidupan di istana tak lagi membuatmu nyaman, sampaikan, masih ada jalan keluar”,  Pangeran Wang Jung menatap wajah lembut Hae Soo, wajah seorang kekasih raja yang berada dalam perlindungan selama yang bersangkutan meminta. Dapatkah ia melupakan wajah itu, wajah ditopang sosok ramping dengan keberanian luar biasa yang  pernah melawan kawanan perompak menculik dan nyaris mencederainya. Wajah yang tak pernah sedetikpun menghilang dari ingatan sekaligus mendatangkan rasa cemas –menjadi kekasih raja berarti membiarkan diri terseret arus kencang bersama kecemburuan ratu dan sekalian selir yang bisa berujung pada kematian. Bahkan cinta seorang raja belum tentu mampu menyelamatkannya.
“Aku akan mengingat kata-katamu”, perlahan Hae Soo berucap setelah lama terdiam. Ia menangkap kesungguhan pada setiap kata-kata Pangeran Wang Jung, Pangeran ke-14 tidak sedang bermain-main, ia mengucapkan satu hal yang akan merubah hidup selamanya. Ia memang akan selalu mengingat dengan benar.  
                                                                              ***
Raja Gwangjong Wang So telah bersiap duduk di singgasana, ketika seorang kasim menyampaikan pesan, “ Pangeran ke-8 ingin bertemu”, tak lama kemudian bayangan Pangeran Wang Wook berkelebat datang.
“Selamat datang”, Yang Mulia Raja bersikap setenang mungkin.
“Saya datang mewakili kaum masyarakat”.
“Ada yang mau disampaikan?” Yang Mulia Raja mengerutkan kening, sorot matanya tajam seakan ingin menjenguk isi hati Pangeran Wang Wook.
“Pertama, Panglima Tinggi yang memimpin 300.000 prajurit harus ditunjuk berdasarkan pemilihan suara. Kedua, pajak atas lahan pertanian harus ditangani Panglima bersangkutan. Termasuk hutang pajak keluarga kerajaan, maka Yang Mulia tidak akan duduk di singgasana seorang diri”.
“Aku harus menyerahkan pasukan serta kekayaan istana? Adakah engkau  berniat memotong kedua sayapku. Adakah kedatanganmu sebuah ancaman?” tegas suara Yang Mulia Raja.
“Jika ingin mempertahankan sayap, adakah Yang Mulia berkenan menyerahkan hati? Keluarga Hwangbo dari Hwangju menawarkan pernikahan  bagi Yang Mulia”, Pangeran Wang Wook telah mempersiapkan kata-kata. Ia telah memilih seorang Ratu Goryeo dengan tepat, ratu yang akan mengubah pula masa depannya.
                                                                                ***
Di tempat berbeda Putri Yeon Hwa dengan sinis mengunjungi kamar Hae Soo, kekasih raja. Satu kunjungan yang tidak pernah diinginkan sang empunya kamar. Sang putri selalu menimbulkan suasana tidak nyaman. “Kamar yang sangat indah bagi seorang kekasih raja”, suara itu merdu sekaligus menyakitkan.
“Ada yang mau disampaikan, maka Putri Raja Taejo berkenan datang?”  Hae Soo tak menghendaki kunjungan lebih lama, kehadiran Putri Yeon Hwa menimbulkan rasa gerah. Sejak pertama ia tidak senang dengan sosok putri cantik ini.
“Aku datang bukan untuk sebuah persoalan, tetapi untuk satu hal yang sama-sama kita inginkan”, wajah cantic Putri Yeon Hwa tampak tersenyum menang.
“Apakah antara kita berdua pernah terlibat hutang piutang?” Hae Soo mencoba menebak kemana arah pembicaraan Putri Yeon Hwa, pasti bukan sebuah niat yang baik.
“Engkau bisa terus tinggal di kamar ini selaku kekasih raja. Maksudku aku menerimamu sebagai kekasih raja, tetapi engkau tidak akan pernah menjadi seorang selir kerajaan. Aku tak akan mempersoalakan siapa yang melayani Yang Mulia Raja siang dan malam”, senyum Putri Yeon Hwa semakin mengembang, ia tahu telah menang. “Aku tak akan memenangkan cinta seorang raja, maka aku tak pernah menginginkannya. Hal yang kuinginkan adalah kehormatan dan pengakuan. Aku ingin melahirkan putra mahkota supaya kelak ia bisa menjadi raja. Aku akan menikah dengan Yang Mulia Raja Gwangjong, dengan demikian aku akan menjadi seorang ratu yang berwenang melahirkan seorang putra mahkota”, tawa Putri Yeon Hwa nyaris meledak. Ia melirik Hae Soo dengan penuh kemenangan. Ia tahu tak akan pernah memenangkan cinta Raja Wang So, akan tetapi kedudukan seorang ratu akan mengubah takdir hidup selamanya. Sejarah  akan mencatatnya sebagai Ratu Goryeo, kisahnya akan tertulis dengan tinta emas sebagai seorang penguasa.
Di tempatnya berdiri, dalam jarak teramat dekat Hae Soo diam terpaku. Ia tak pernah ingin bersinggungan dengan Putri Yeon Hwa, seorang putri yang sangat membencinya dan memandangnya dengan sebelah mata. Ia hanyalah seorang dayang malang, seorang gadis bangsawan yang hilang ingatan. Kini dengan angkuhnya sang putri menyatakan takdirnya untuk menikah dengan Raja Gwangjong, hal itu berarti Putri Yeon Hwa akan menjadi seorang ratu. Ia cuma kekasih raja, betatapun ia selalu memenangkan cinta seorang raja, akan tetapi apa artinya? Ia hanya lalat pengganggu bagi seorang ratu yang tinggi hati dengan seluruh kekuatan marga di belakangnya.
Diam-diam Hae Soo mengeluh, wajahnya memucat bagai kertas. Lidahnya kelu. Di depan kesombongan Putri Yeon Hwa, ia bukan apa-apa –bukan siapa-siapa?
                                                                               ***
Adapun di singgasana percakapan antara Yang Mulia Raja masih berlanjut. “Apabila Yang Mulia menikah dengan Puteri Yeon Hwa, semua keluarga Hwangbo akan menjadi pendudung sekaligus memperkuat kedudukan raja”, Pangeran Wang Wook sampai kepada penawaran, ia tahu kekuatan seorang ratu yang akan berpengaruh pada dinding istana terdalam. 
“Engkau mencoba mengubah takdir hidupku?” diam-diam dada Yang Mulia Raja terguncang, menikah dengan Putri Yeon Hwa? Sejak kapan ia bermimpi Yeon Hwa akan bersanding di singgasana sebagai seorang ratu?
“Adakah Yang Mulia menerima tawaran ini?” Pangeran Wang Wook bertanya, wajahnya tenang, tetapi hatinya diliputi dendam. Wang So merampas segala hal penting dari hidupnya, tahta dan wanita.
“Kini aku seorang raja di singgasana, tetapi jauh di dalam diriku tersembunyi lolongan srigala, apabila ada srigala yang lain melolong pula”, Yang Mulia menjawab tegas, ia tidak takut dengan penawaran atau sesungguhnya ancaman Wang Wook.
“Yang Mulia tengah duduk di atas kursi yang tidak mudah didapatkan dan tidak mudah pula  dipertahankan. Dari singgasana mestinya tampak dengan jelas, bahwa keluarga penguasa bagaikan pedang bermata dua. Jika seorang raja berniat mempertahankan singgasana, dukungan keluarga besar Hwangbo jelas diperlukan”, Pangeran Wang Wook memperjelas maksud kedatangannya.
“Aku sudah berjanji akan menikah dengan wanita yang lain”, jawab Yang Mulia Raja Wang So.
“Hae Soo? Ia tidak bisa menjadi seorang ratu”.
“Aku akan tetap menikahinya”.
“Apakah Yang Mulia terlupa, Hae Soo pernah menolak untuk menikah dengan Yang Mulia Raja Taejo dengan melukai tangannya sendiri. Seorang wanita yang memiliki bekas luka tidak bisa menikah dengan raja”,  Pangeran Wang Wook tidak salah memberikan alasan.
 Di atas singgasana Yang Mulia Raja terdiam, menyadari kebenaran kata-kata PangeranWang Wook. Dapatkah seorang Raja Goryeo menikahi wanita dengan tangan bekas luka? Yang Mulia Raja membuang pandang, suasana menjadi diam. Ia telah memimpikan suatu hari bersama wanita pilihannya –hari pernikahan yang tidak akan pernah datang.
Wajah Yang Mulia Raja berubah menjadi sekeras batu.


Bersambung ke Scarlet Heart, Ryeo Episode 18

SCARLET HEART, RYEO --Roman di Bawah Absolut Monarki-- ENAMBELAS

 




 

Park Soon Duk berusaha keras melawan para prajurit seorang diri, ia tahu hidup matinya tengah dipertaruhkan. Adakah ia masih akan dapat menatap esok bersama sang pangeran selama-lamanya. Ia adalah seorang prajurit perempuan yang terbiasa menebaskan pedang, andai kali ini adalah pertempuran yang seimbang. Akan tetapi, prajurit kerajaan terlalu banyak. Pangeran Wang Eun sadar akan akibat yang harus dipikul ketika memutuskan untuk menyertai Soon Duk, bukan bersembunyi. Ada yang bergetar di relung hati, ia harus  menebaskan pedang tanpa kemampuan tempur sama sekali, ia tidak sedang bertempur melawan pasukan musuh dari kerajaan tetangga, tetapi dengan prajurit Goryeo di bawah perintah Raja Wang Yo. Mengapa seorang saudara tua tega membantai adinda, karena ia tidak memberikan dukungan? Pangeran Wang Eun tahu, ia tak akan pernah memenangkan pertarungan ini, meski Park Soon Duk adalah seorang parjurit wanita, putri seorang jenderal pula. Dari lantai atas Yang Mulia Raja Wang Yo menatap perkelahian itu dengan tatapan dingin. Ia  harus menyingkirkan pengkhianat sebelum tahta terancam.
Saat seorang prajurit berhasil melukai Park Soon Duk, Pangeran Wang Eun nyaris menjerit, leleran merah darah itu benar menakutkan. Apa yang akan terjadi dengan seorang istri ketika terlibat dalam perkelahian antara hidup dan mati? Sesal terlambat datang, sejak perkawinan ia nyaris tak pernah berlaku sebagai suami yang bijak, betatapun Park Soon Duk mencintai dan memberikan seluruh hidup. Ia telah berlaku semena-mena sejak hari perkawinan, akan tetapi tidak untuk saat ini. Ia berusaha melindungi Soon Duk dari luka berikutnya.
“Pergilah…. Selamatkan diri!” suara Park Soon Duk kalap, ia menyesal mengapa Pangeran Wang Eun terlibat perkelahian, bukan menyelamatkan diri selagi tersisa sepenggal waktu.
“Tak mungkin kutinggalkan seorang istri !” Pangeran Wang Eun membantah, bulu kuduknya meremang. Sesaat sang pangeran menatap Yang Mulia Raja, ia masih bisa memohon satu permintaan. “Biarkan mereka pergi. Kami tak akan pernah menginjakkan kaki di Goryeo….” Adalah permintaan Pangeran Wang Eun terakhir. Raja Wang Yo tak hendak memerikan pengampunan, dengan tegas Yang Mulia memberikan isyarat kepada seorang prajurit untuk mengakhiri perlawanan itu.
Maka sang prajurit diam-diam bergerak menebaskan pedang ke arah Pangeran Wang Eun, tangan Park Soon Duk bergerak mendorong Pangeran Wang Eun menjauh. Maka mata pedang itu akhirnya menebas tubuh semampai Park Soon Duk,  prajurit wanita itu tersungkur berlumuran darah. Pangeran Wang Eun menjerit, ia tak pernah mengharap hari ini terjadi, tetapi Park Soon Duk telah terkapar atas perintah raja. Wajah sang pangeran memucat bagai helai kafan, ia tak pernah bermimpi akan perkawinan ini, namum bisakah ia kehilangan dengan cara yang menyakitkan?
Pangeran Wang Eun terpengarah, masih ada sisa tenaga meraih tubuh lunglai putri sang jenderal. “Engkau akan baik-baik saja….” Suara itu terpatah-patah bercampur isak tangis, Wang Eun tahu keadaan Park Soon Duk sudah sedemikian buruk, darah itu tak akan pernah berhenti membanjir. Saat bertatapan hati sang pangeran remuk redam, ia dapat merasakan pandangan seorang istri yang mencintai setulus hati hingga tiba hari  penghabisan. Sesaat Park Soon Duk tersenyum seakan tak menyesali hari terakhir tiba, karena ia berada dalam pelukan sang pangeran. Tak lama kemudian prajurit wanita itu terkulai, menghembuskan napasterakhir. Perkawinan menjadi kebersamaan teramat singkat, bahkan sebelum hati keduanya benar menyatu.  Pangeran Wang Eun tak dapat menahan sedu sedan, air matanya membanjir bercucuran.
Dari ketinggian Yang Mulia Raja menyaksikan kematian itu dengan wajah membeku, tak perlu ada yang ditangisi. Ia merentang gendewa, membidikkan anak panah pada, maka lengan Pangeran Wang Eun terluka, darah menetes. Anak panah kedua kembali siap membidik, pada saat yang sama Pangeran Wang So datang menyelamatkan Pangeran Wang Eun, melawan para prajurit. Yang Mulia Raja tidak peduli akan kehadiran Pangeran ke-4, ia tetap membidikkan anak kepada Pangeran Wang Eun.
Pangeran Wang Jung dan Hae Soo tiba tak lama kemudian, Pangeran Wang Jung berusaha membantu Pangeran Wang Eun, tetapi para prajurit berhasil menahannya. Ketika seorang prajurit hendak menyerang Pangeran Wang Eun, Pangeran Wang So kembali memberikan perlindungan. Yang Mulia Raja tak membuang waktu, anak panah kedua melesat melebihi kecepatan waktu tepat mengenai tubuh Pangeran Wang Eun. Sang pangeran roboh dalam pelukan Pangeran Wang So. Dari jarak terukur Pangeran Wang Jung dan Hae Soo terpaku di tempatnya berdiri dengan leher tercekik. Masih ada sisa tenaga bagi Pangeran Wang Eun untuk permintaan terakhir, “Bukankah Hyungnim pernah berjanji pada hari ulang tahunku untuk memberi hadiah, apapun yang kuminta?” suara itu terbata-bata bercampur rintihan.
“Apa permintaan itu?” Pangeran Wang So seakan melihat maut semakin dekat, ia telah berulang kali melihat manusia meregang nyama, tetapi kini dalam pelukannya adalah Wang Eun, adinda tercinta. Dadanya seakan sesak ditindis sebongkah batu.
“Tak bisa kubiarkan Soon Duk pergi seorang diri, aku harus menyertai. Tahu apa maksudku?” suara itu semakin lemah. Sementara Yang Mulia Raja tengah bersiap dengan anak panah ketiga.
Udara seakan dibekap halimun ketika Pangeran Wang So harus memenuhi permintaan Pangeran Wang Eun dengan kalap. Mungkinkah ia dapat memaafkan diri sendiri, karena memenuhi permintaan itu? Air mata Pangeran ke-4 berlinang-linang ketika bangkit merentang bilah pedang. Hae Soo berbisik, “Jangan ….” tetapi bisikan itu lalu bersama angin yang beraroma anyir darah.
Segalanya seakan bukan nyata ketika Pangeran Wang So benar memenuhi permintaan itu menebaskan pedang ke tubuh Pangeran Wang Eun, sehingga sang pangeran dapat pergi menyertai Park Soon Duk selama-lamanya. Pangeran ke-10 masih berusaha mengulurkan tangan bagi Park Soon Duk, kemudian maut membawanya berpulang menuju keabadian.  Senyum Yang Mulia Raja mengembang, ia telah berhasil menumpas pengkhianat.
Sekuat tenaga Pangeran Wang Jung melepaskan diri dari cengkeraman para prajurit memeluk jenazah Pangeran ke-10 yang masih hangat. Sementara Pangeran Wang So bagai dihantam godam, ia menjerit kemudian tertawa, ia tahu akan sulit memaafkan dirinya sendiri. Betapa ia mengasihi Wang Eun sepenuh hati, betapa ia harus memenuhi permintaan adinda dengan mengakhiri hidupnya. Usai meluapkan penyesalan, Pangeran Wang So berpaling menatap Yang Mulia Raja. Pada sepasang matanya berpijar api dendam, Pangeran Wang So menunggu suatu hari untuk membayar kekalahan ini. Tak lama kemudian Pangeran Wang So pergi, ia harus mencari suatu tempat untuk menenangkan diri. 
Sementara Hae Soo terduduk di atas tanah, seluruh tulang belulang seakan terlepas, ia menatap tubuh Pangeran Wang Eun yang roboh bersimbah darah dengan  gemetar. Air matanya menitik, sekalilagi ia harus menyaksikan kematian tragis di lingkungan dinding istana. Terbayang kembali perkenalan kocak dengan Pangeran Wang Eun, sikapnya yang kekanak-kanakan, cintanya yang tak mungkin terbalas. Wang Eun seorang sahabat yang mengesankan, kini ia terbaring di depan mata untuk selama-lamanya atas perintah Yang Mulia Raja. Ada luka dalam tersayat yang tak mungkin tersembuhkan, Hae Soo bertanya-tanya kepada diri sendiri –sampai kapan ia akan dapat bertahan dalam kehidupan seperti ini, ketika para pangeran berebut tahta dan seolah dapat bertindak apa saja, termasuk membantai pangeran yang lainnya. 
Adapun Pangeran Wang So berjalan dengan gontai, seluruh lantai serta dinding istana seakan dilumuri darah Pangeran Wang Eun, sepasang matanya sembab, jantungnya berpacu lebih cepat. Ketika berpapasan dengan Jenderal Park wajah Pangeran ke-4 semakin muram, tak  ada cukup kata-kata duka cita untuk berucap. Sesaat ia  berdiri terpaku dengan lidah kelu, bilah pedangnya bersimbah darah. Di pihak lain Jenderal Park segera dilanda kepanikan, sikap serta mulut bisu Pangeran Wang So telah mengucapkan perihal terburuk. Tanpa mengaatakan apapun, Jenderal Park berlari memburu tubuh Park Soon Duk yang terkapar. Kali ini bahkan seorang jenderal tak dapat membendung air mata, ia telah berulang kali terancam maut, membunuh lawan. Akan tetapi, yang kini tewas dengan tragsi adalah putri tercinta.
“Impian untuk menjadi pengantin seorang pangeran harus engkau tebus dengan kematian”,  Jenderal Park memeluk jasad Park Soon Duk yang masih hangat, wajah itu demikian manis seakan seorang bocah. Ia harus kehilangan bocah manis itu dengan cara yang menyakitkan. Hari ini akan  menjadi hari berkabung untuk selama-lamanya.   
"Soon Dukku seorang yang keras kepala, tetapi setia dan tak pernah berubah. Adakah Pangeran Wang Eun mencintainya?” suara itu terpatah-patah.   
"Pangeran Wang Eun sangat mencintainya. Keduanya saling mencintai hingga pada akhir hidupnya”, tanpa ragu Hae Soo menjawab, air matanya bening membasahi pipi.
"Kuharap engkau pergi dengan tenang ….” Jenderal Park masih memeluk jasad Park Soon Duk, tak mudah kehilangan dengan cara seperti ini.
"Akan kubunuh Wang So!" Pangeran Wang Jung dibakar dendam, hatinya tercabik melihat sepasang suami istri tewas dengan semena-mena. Mengapa harus? Ia bangkit menghunus pedang siap berhadapan dengan Pangeran Wang So.
“Pangeran Wang Eun sendiri yang meminta Pangeran Wang So untuk mengakhiri hidupnya, pangeran ingin menyertai Soon Duk selama-lamanya. Pangeran So tidak bersalah”, Hae Soo menghentikan langkah Pangeran Wang. Kata-kata Hae Soo menyebabkan langkah Pangeran Wang Jung terhenti.
“Euuunnn…..!!” Pangeran Wang Jung menjerit putus asa, langit seakan runtuh mengubur seluruh hidupnya.
Jeritan itu tak terdengar di telinga Pangeran Wang So yang telah melangkah pergi, hatinya seakan terbakar amarah yang tidak tahu kemana harus dilampiaskan. Ia terlibat terlalu jauh dalam kekacauan ini, ia tak akan dapat melupakan wajah terakhir Pangeran Wang Eun saat maut menjemput. Ia mengasihi Pangeran ke-10, tetapi harus memenuhi permintaan terakhirnya. Saat itu Choi Ji Mong datang dengan wajah galau, ia telah menjadi tua di dalam dinding istana dengan segala pertikaian tanpa henti. Bulu kuduk ahli bintang itu meremang, ketika Pangeran Wang So dengan wajah merah padam mendesis, “Ternyata aku harus menjadi anjing pembunuh, yang menggigit majikan dan mengambil alih rumahnya. Aku serigala gila", tanpa menunggu jawab sang pangeran pergi berlalu.
Pangeran Wang So terus melangkah, ia ingin menjauh dari kekacauan, ia ingin melupakan, andai hari ini tak pernah ada. Ada satu tekad mengeras di relung hati. "Aku, Wang So, akan menjadi Raja Goryeo. Aku harus menghentikan semua kekacauan ini…"
                                                                               ***
Sementara Yang Mulia Raja tanpa rasa bersalah menyampaikan perihal kematian Pangeran Wang Eun dan Park Soon Duk kepada Pangeran Wang Wook. “Keduanya telah tiada….” tak ada wajah duka atau sesal. Kematian itu sudah harus terjadi. Sementara Pangeran Wang Wook tampak diam tanpa perasaan, ia terlalu pandai menyembunyikan suasan hati  yang bergolak seakan badai lautan. Bagaimana seorang raja dapat menyampaikan perihal kematian seorang pangeran tanpa sesal?  
“Pemberontakan Wang Gyu berhasil dipalsukan, rencana semula berhasil”, Yang Mulia Raja tersenyum samar, ia telah berhasil memalsukan sebuah kejadian dan menempatkan Pangeran Wang Eun sebagai korban.
“Selamat ….” Pangeran Wang Wook memberikan ucapan tanpa menunjukkan perasaan
“Tak ada satu pihakpun yang akan kembali mengguncang tahtaku selaku raja. Aku akan memindahkan ibukota dari Songak ke Seokyeong pada kesempatan pertama”, senyum Yang Mulia Raja masih tampak samar. Dengan memindahkan ibu kota ke Seokyeong, sang paman, Wang Sik Ryeom akan senang.
                                                                                  ***
Malam datang lebih  hitam dari ribuan malam sebelumnya, angin lebih dingin berhembus menggigit pori-pori. Di menara bintang Pangeran Wang So duduk terpaku, ia dihantam kehilangan yang sangat dalam. Kapan ia bisa menatap wajah muda Pangeran Wang Eun yang tengah mencoba berbahagia bersama putri seorang jenderal? Tak lama kemudian Pangeran Baek Ah dating dengan wajah duka, “Eun dan Soon Duk dinyatakan sebagai pengkhianat, tak ada pemakanan kerajaan, keduanya bahkan tak diijinkan dimakamkan di tanah keluarga. Tak seorangpun diperbolehkan mengenakan pakaian berkabung. Jenazah telah dibuang ke hutan supaya dimangsa burung gagak. Kami sudah menguburkan secara diam-diam, anak panah tidak bisa dikeluarkan dari tubuh Eun hyungnim,  Jung mematahkannya", suara Pangeran Baek Ah seakan rintihan. Ia tak menduga suatu ketika seorang raja bisa sedemikian tega terhadap saudara muda.
"Eun masih ingat hari ulang tahun setelah aku melupakan. Ia masih meminta hadiah, menyertai Soon Duk pergi selama-lamanya. Hadiah yang mengerikan yang hanya bias diberikan Pangeran ke-4 yang pernah menjadi serigala”, Pangeran Wang So kini menyadari, betapa ia sangat mengasihi Wang Eun. Betapa kehilangan dengan cara seperti ini, menyakiti hati hingga ke relung terdalam. Ia akan menghentikan Wang Yi, Yang Mulia Raja untuk tidak bertindak  lebih semena-mena.
“Eun pasti akan berterima kasih atas hadiah ulang tahun itu”, Pangeran Baek Ah mengerti kegalauan hati Pangeran Wang So. Pangeran ke-4 bukan hanya berkabung, tetapi juga berada dalam keadaan yang salah.
Tiba=tiba Choi Ji Mong datang dengan sehelai surat di tangan, “Sudah terlambat, Surat dari Hae Soo, ia tinggalkan saat tak menemukan siapapun di menara waktu”.
Pangeran Wang So menerima pucuk surat itu dengan tanda tanya. Apakah isinya? Sepasang matanya membelalak ketika terbaca sederet huruf: 
                     Eun bersembunyi di Damiwon.
Andai surat itu terbaca sebelum Yang Mulia Raja merentangkan tiga batang anak panah bagi Wang Eun. Pangeran Wang So tahu kemana hendak menuju, tergesa ia melangkah ke  tepi danau.  Hae Soo setengah berlari menyambut kedatangan itu, akan tetapi Pangeran Wang So menatapnya dengan tajam, suaranya sinis, “Engkau pasti  menganggapku seekor serigala,  karena telah membunuh Eun?” tak mudah bagi Pangeran ke-4 melupakan wajah pucat Wang Eun menjemput maut.
“Aku tahu kenapa pangeran harus memenuhi permintaan itu”, Hae Soo tertegun, ia tak menyangka Pangeran Wang So akan berucap dengam amarah tertahan.
"Kenapa kau menyembunyikan keadaan sebenarnya, kalau Eun berada di Damiwon? Engkau tidak bisa mempercayai seekor serigala? Kau takut aku akan membantai Eun tanpa sebab?" suara Pangeran Wang So terucap dengan lidah  getir.
“Aku sangat mengkhawatirkan Pangeran Wang Eun,  takut terjadi hal buruk padanya. Ia juga takut terjadi sesuatu yang buruk pada Pangeran Wang So. Pangeran Eun mengira keadaan akan berubah jika keduanya berhasil melarikan diri. Kini segalanya terlambat sudah, antara sesame pangeran terpaksa harus saling menyakiti satu sama lain. Maka, aku menulis surat itu, karena masih percaya Pangeran ke-4. Segalanya memerlukan waktu, tapi aku benar percaya apapun yang terjadi", lidah Hae Soo sama getirnya dengan lidah Pangeran Wang So, ia tahu sang pangeran telah berubah, karena tragedy ini.
"Tetapi, terhitung mulai hari ini segalanya tak sama lagi. Andai engkau menyampaikan pesan pada kesempatan pertama, Eun pasti masih masih hidup", berat bagi Pangeran Wang So menyalahkan diri sendiri, ia perlu menghibur diri dengan menyalahkan orang lain. Hae Soo tidak sepenuhnya memberikan rasa percaya, Wang Eun meninggal dengan tragis di tangannya sesuai permintaan sebagai hadiah ulang tahun. Demi menyelamatkan Hae Soo ia harus menjadi serigala bagi Yang Mulia Raja, perasaannya tidak pernah berubah. Akan tetapi, sekarang Pangeran Wang So benar-benar merasa hampa dan kehilangan, sesak dada harus mengutuki diri sendiri.
Sesaat suasana di tepi danau itu hampa, sama hampa dengan perasaan dua orang yang saling meragukan kemudian kehilangan
"Segalannya telah berubah. Kita sudahi saja sekarang", wajah Pangeran Wang So berubah ubah antara pucat dan merah padam, suasana hatinya kacau bagai berkecamuk perang tanpa kesudahan.
“Pangeran bohong”, Hae Soo nyaris terlonjak di tempatnya berdiri, ia telah menulis catatan rahasia yang menyatakan Pangeran Wang Eun di Damiwon supaya Pangeran Wang So bisa menentukan langkah penyelamatan. Surat itu terlambat sampai, tak terbaca, yang terjadi bahkan sebaliknya, Pangeran Wang Eun berpulang dengan cara yang mengerikan.  
“Kita sudah berjanji untuk tidak saling berbohong", Pangeran ke-4 berucap tanpa menatap wajah Hae Soo. Kematian Pangeran Wang Eun bukan hanya menyebabkan ia kehilangan, ia telah kehilangan segala-galanya. Dengan wajah mendung Pangeran Wang So pergi berlalu meninggalkan Hae Soo yang berdiri terpaku seakan patung batu. Segalanya berubah dengan cepat seakan pantai indah dihantam badai, tanpa sadar air mata kepala dayang itu kembali menetes, entah air mata yang ke berapa kali?
Adapun Pangeran Wang So melangkah kembali ke menara bintang tanpa pernah  menoleh lagi, seolah ia telah melupakan masa lalu untuk selama-lamanya. Suasana di menara bintang lebih sunyi, dingin, dan hampa. Kali ini sang pangeran tak dapat menahan duka hati, sepasang matanya menjadi redup, berkaca-kaca. Tak lama kemudian  gerimis pun menitik.
                                                                        ***
Hari berikutnya Yang Mulia Raja memberikan pujian tanpa mengetahui isi hati Pangeran Wang So yang sebenarnya. “Terima kasih untuk membantu menghukum Eun, si pengkhianat. Ada hadiah yang harus kuberikan adalah tanah pertanian untukmu. Kemudian pergilah ke Seokyeong bakal ibu kota baru Goryeo, awasi pembangunan istana di sana”, samar senyum Yang Mulia Raja tanpa menyadari betapa kosong dan hampa wajah Pangeran Wang So. Hanya di relung hati ia berucap, ‘tak akan kubiarkan kesewenangan ini lebih lama, aku pasti akan membayarnya’.
Pertemuan singkat selesai sudah.
Berikutnya Pangeran Wang Jung datang bertanya, “Adakah Yang Mulia Raja tidak merasa takut setelah darah tertumpah menggenangi lantai istana?” masih terbayang tubuh Pangeran Wang Eun serta Park Soon Duk terkapar berlumuran darah, hatinya gagu.
“Seorang tak akan menjadi raja bila tidak memiliki keberanian menumpahkan darah, engkaupun harus berhati-hati untuk hal itu”, kata-kata itu terucap dengan mudah sekaligus sebagai peringatan.
“Saya ingin melihat keadaan ke wilayah perbatasan”, Pangeran Wang Jung mengajukan permintaan, ia ingin sejenak meninggalkan suasana istana yang mengerikan.
“Pergilah, restuku untukmu, tetapi jangan berjalan hingga jauh di garis depan,  ibu pasti khawatir”, Yang Mulia Raja menyetujui keinginan Pangeran Wang Jung.
“Aku ingin melangkah hingga pada batas terjauh, selama ini cukuplah menjadi seorang pengecut”, sesaat Pangeran Wang Jung menatap wajah Yang Mulia Raja. "Aku akan melihat sendiri berapa lama sebenarnya mampu bertahan hidup? Aku harus membayar kejahatanmu", tatapan Pangeran Wang  Jung semakin tajam. Ia tak menghendaki sebuah pertemuan yang beralama-lama, cukup sudah waktu berpamit.
Sebelum pergi Pangeran Wang Jung meletakkan dua buah patahan anak panah yang sengaja diambil dari tubuh mati Pangeran Wang Eun. Tiba-tiba sepasang mata Yang Mulia Raja terbelalak lebar, ia akan selalu teringat anak panah yang membunuh Pangeran ke-10 , samar seakan ia mendengar rintihan Wang Eun dari alam kubur. Bulu kuduknya meremang ketika suara rintihan itu semakin lama semakin keras. Wang Eun meminta keadilan, Yang Mulia Raja tahu, ia harus melakukan sesuatu,”Siapkan sesaji bagi mereka yang sudah berpulang di Gaeguksa, sekarang”, perintah Yang Mulai kepada kasim istana, ia mulai merasa arti takut setelah melihat patahan anak panah.
Pertemuan hari itu usai sudah, semua orang meninggalkan ruang tahta. Jenderal Park berucap dengan sinis, “Semoga Wang So panjang umur, karena mendapatkan semua hadiah dari Raja  setelah membunuh anak dan menantuku”, wajah tua sang jenderal menatap Pangeran Wang So dengan penuh dendam, ia tak pernah mengerti duduk persoalan yang sebenarnya.
“Mengapa ada seorang pangeran membunuh saudara kandungnya?” seorang pejabat yang lain berbisik.
“Benarkah masih tersisa perasaan seorang manusia?” suara yang lain kembali terdengar. Sepoi angin membawanya ke telinga Pangeran ke-4.
 Sang pangeran menghela napas panjang, ia menjadi kambing hitam bagi kematian Pangeran Wang Eun. Masih pantaskah ia menetap di dalam dinding istana? Sanggupkah ia menerima seluruh tudingan ketika ia bahkan dihimpit berat penyesalan, karena kematian itu?   
Sementara ingatan Jenderal Park kembali pada masa lampau, saat Pangeran Wang So, Choi Ji Mong,  dan Pangeran Baek Ah datang menemuinya. “Saya telah mendengar perihal rencana Pangeran ke-4 untuk menjadi raja”.
“Setiap orang berhak memiliki keinginan”, jawab Pangeran Wang So.
“Choi Ji Mong selalu berkata, ia melihat Pangeran Wang So memiliki bintang raja. Mendiang Raja Taejo juga mengatakan hal yang sama, makanya Raja Taejo menitipkan Pangeran kepada saya untuk diajari bela diri”, Jendral Park berucap tenang meski hatinya berkecamuk galau perasaan.
"Bintang Raja? Aku tidak mempercayai hal-hal seperti itu. Akan tetaapi tetap saja aku harus menjadi seorang raja. Jika aku dipaksa membunuh karena alasan itu, maka aku harus menduduki kursi itu untuk menghentikan semua ini".
“Mendiang Raja Taejo pernah pula berkata, bahwa demi negara dan keluarga kerajaan, seorang raja harus rela menyingkirkan semua orang. Siapa yang akan Pangeran So singkirkan demi menjadi raja?”
                                                                        ***
Hari berikutnya Pangeran Baek Ah datang menemui Hae Soo, “So sudah berangkat ke Seokyeong dan tidak akan kembali untuk beberapa lama”, Baek Ah tahu, Hae Soo pasti merasa  kehilangan. Ia tak banyak berucap ketika melihat Hae Soo berlari menuju ke pinggir danau untuk menemukan sosok Pangeran ke-4, tetapi sosok yang dicari benar telah lesap menuju jarak yang amat jauh.
"Aku akan menunggumu", kepala dayang itu berbicara kepada angin dengan harapan yang sangat tipis Pangeran Wang So tahu, ia akan selalu menunggu.
Musim demi musimpun berganti, setelah gugur kuncup bunga kembali mekar, tunas hijau kembali bersemu. Pangeran Wang So belum juga kembali, Hae Soo masih tetap menunggu sambal mengerjakan tugas sehari-hari di Damiwon. Di sela-sela kesibukan bekerja Hae Soo masih sering duduk termenung di tepi danau  hingga satu kali Chae Ryung tiba-tiba datang tergesa, “Ada tamu untukmu”, senyum samar menghias wajah dayang itu.
Tanpa menunggu kata-kata selanjutnya Hae Soo tergesa melangkah kembali ke istana, harapan melambung tinggi untuk bertemu Pangeran Wang So. Akan tetapi, dalam sekejab harapan itu berserakan, ia tidak mendapatkan sosok pangeran yang ditunggu hingga dua kali musim berganti.  Tamu itu bukan Pangeran ke-4, tetapi Pangeran Wang Jung. Mengapa Pangeran ke-14 mesti mencarinya? Hae Soo menekan rasa kecewa. Dimanakah Pangeran Wang So?
Akan tetapi, Hae Soo cepat tanggap, ia segera menyajikan teh panas serta menemui Pangeran Wang Jung dengan santun. “Aku baru berziarah ke makam Eun dan Soon Duk…. Aku kira engkau sudah menikah dan meninggalkan istana”, Pangeran Wang Jung menatap wajah lembut Hae Soo, wajah yang tak pernah berubah sejak pertama ia mengingat ketika kepala dayang itu membelanya dari niat jahat para perompak. Kepala dayang itu pasti tak tahu isi hatinya, ia memang tidak perlu tahu.
“Aku akan bekerja  dan menabung semua pendapatan yang kuterima. Jika pension nanti aku akan pergi berlibur ke tempat yang jauh”, Hae Soo mencoba tersenyum, tak sedikitpun muncul tanda tanya, mengapa Pangeran Wang Jung harus menyempatkan diri datang berkunjung?
Saat melangkah keluar, keduanya bertemu Pangeran Baek Ah dan Woo Hee. “Woo Hee, dayang di Gyobang”, Hae Soo memperkenalkan dara manis itu kepada Pangeran ke-14.
"Ah, si mantan gisaeng itu?" sekilas Pangeran Wang Jung melirik Woo Hee nyaris tanpa rasa hormat. “Mengapa Baek Ah karena selalu berteman dengan semua orang, dengan pembunuh dan sekarang dengan gisaeng”.
“Sebelum berkata alangkah lebih baik bila seorang pangeran mesti mempertimbangkannya”, wajah rupawan Pangeran Baek Ah berkerut, ia merasa tidak bias mendengar kata-kata itu dengan nyaman.
“Alangkah baik juga harus mempertimbangkan untuk bersahabat dengan So, ia bisa membunuh siapa saja, termasuk engkau saudara yang disayanginya”, sekilas Pangeran Wang Jung melirik wajah Pangeran Baek Ah. “O ya, dan berhentilah mengirim mata-mata yang menyamar jadi penghibur ke pangkalan militer”, kali ini suara Pangeran Wang Jung lebih tegas.
“Aku tak pernah mengirim seorang mata-mata, pekerjaan melelahkan yang tidak ada hasilnya”, Pangeran Baek Ah menyangkal.  Sekejab sang pangeran tertegun,  ketika Pangeran Wang Jung pergi pergi berlalu, Baek Ah tidak bisa  menahan diri untuk tidak bertanya kepada Woo Hee, "Bagaimana Jung bisa tahu? Dia cepat juga menerka".
"Meskipun seorang panglima,  Jung tampak lucu",  Woo Hee menyampaikan pendapat tentang sosok Pangeran ke-14.
Sementara Hae Soo membelalakkan sepasang matanya yang indah mendengarkan kata-kata Pangeran Baek Ah, “Jadi, benar pangeran mengirim mata-mata ke pangkalan militer?” Hae Soo bertanya.
“Aku hanya ingin mengetahui keadaan Jung”, Pangeran Baek Ah selalu punya alasan.
Hae Soo masih membelalakkan mata, tetapi diam-diam ia melirik ke beberapa sudut dengan satu pertanyaan. Dimana Pangeran Wang So? Tanpa sadar Hae Soo bertanya dengan suara berbisik, “Dimana Pangeran Wang So?”
“Pada suatu tempat di istana. Engkau tidak tahu bila So sudah kembali?”  Pangeran Baek Ah balik bertanya.
                                                                         ***
Pada suatu tempat di istana pula Yang Mulia Raja tampak tak mampu menguasai diri, wajahnya memucat bagai helai kafan, lingkaran hitam membayang pada kedua mata, sementara tangannya sibuk membunyikan lonceng, menabuh gong,  mulutnya berkomat-kamit mengucap mantra. Di meja altar tampak beberapa patung Buddha dan jimat. Yang Mulia Raja tengah melakukan ritual mengusir setan.
Ratu Yoo datang tak lama kemudian, Yang Mulia Raja semakin keras membunyikan kentongan, telinganya tak  mendengar suara apa-apa ketika ibunda  berucap, “Jung sudah kembali”. Yang Mulia Raja berhenti membunyikan kentongan saat Ratu Yoo memegang tangannya.
“Engkau semakin sakit-sakitan, lebih baik mengangkat Jung sebagai putra mahkota sekaligus penerus”, sang ratu benar merasa cemas melihat keadaan Yang Mulia Raja, kesehatannya terus memburuk, kewarasannya bahkan harus dipertanyakan.
“Sebenarnya ibu menganggapku apa? Hewan yang bisa dikorbankan demi mendapatkan tahta. Aku tidak akan segera mati, dalam tahun-tahun terakhir ibu selalu mengomel seolah pemakaman Raja Goryeo sedang dipersiapkan!” amarah Yang Mulia Raja meletup, ia berada dalam keadaan sengsara, mestinya seorang ibu suri membantunya melewati kesengsaraan itu. Bukan sebaliknya, memintanya melepaskan tahta. "Atau Jung juga ingin menjadi raja?" Yang Mulia Raja kini curiga. Sepasang mata Raja Wang Yo menatap Ratu Yoo dengan kalap, seakan ia hendak menelan seluruh sosok sang ratu. Di pihak lain bulu kuduk Ratu Yoo meremang, tatapan mata Yang Mulia Raja menimbulkan ketakutan hebat.
“Pangeran Wang So datang ….” tiba-tiba pengawal mengumumkan kedatangan Pangeran Wang  So. Saat sang pangeran hadir di ruangan Yang Mulia Raja tertawa keras-keras hingga seluruh dinding bergetar, “Bila ibu menjadi takut dengan keshatanku lebih baik aku memastikan So sebagai putra mahkota”, Yang Mulia Raja terus tergelak, tawa mengerikan yang sama sekali tidak mencerminkan kegembirann, tetapi sebaliknya, ia begitu ketakutan.
Ratu Yoo terpana, ia bisa menangkap pertanda, anak yang pernah dilahirkan kini kehilangan kewarasan, karena suatu hal. Ratu Yoo merasa  langit-langit istana nyaris runtuh, napasnya sesak, ia tak mampu lebih lama berdiri di tempat ini. Dengan lutut setengah gemetar sang ratu pergi.  
Di halaman istana Pangeran Wang Wook dan Wang Jung dalam perjalanan menemui Yang Mulia Raja, keduanya berpapasan dengan Hae Soo. Pangeran Wang Wook menatap wajah lembut cukup lama –pernahkah barang sekejab ia melupakan wajah itu? Hae Soo mengangguk layaknya seorang dayang menghormati pangeran Goryeo, seolah ia tak pernah memiliki pengalaman indah bersama sang pangeran.
Saat ketiganya masuk ke kamar Yang Mulia Raja, Raja Wang Yo tengah melampiaskan amarah kepada Pangeran Wang So, “Pembangunan di Seokyeong amat lamban, apa sebenarnya yang bisa engkau kerjakan?!” suara Yang Mulia Raja geram. Sementara Hae Soo tertegun ketika menatap sosok Pangeran Wang So di kamar raja. Akan tetapi ia tak memiliki cukup waktu untuk terus tertegun, ia segera melakukan pekerjaan utama, menyajikan teh untuk Raja Wang Yo.
“Pembangunan istana di Seokyeong lambat, karena kekurangan tenaga manusia dan persediaan bahan baku. Pekerjaan tak dapat diteruskan tanpa bahan baku”, Pangeran Wang So memberikan sebuah alasan.
Yang Mulia Raja tak dapat menerima alasan itu, ia melempar cangkir ke arah Pangeran Wang So kemudian mencengkeram tangan Hae Soo erat-erat, “Pekerja harus dipaksa menyelesaikan istana tepat waktu, harusnya engkau mengerti akan hal itu!” cengkeraman tangan Yang Mulia Raja semakin kuat. Hae Soo kesakitan, jeritan  kecilnya tertahan.
Pangeran Wang Jung berniat membantu Hae Soo, tetapi Pangeran Wang Wook memegangi tangan Pangeran Wang  Jung, “Tidak perlu terlibat….”
Sesaat Pangeran Wang So terdiam, gagu sebelum akhirnya berlutut, mengakui kesalahannya. Sementara Pangeran Wang Wook segera mengatasi keadaan dengan membujuk Yang Mulia Raja, “Kita  akan membahas masalah ini pada hari berikut”, maka Yang Mulia Raja akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya pada Hae Soo.
Malam hari, Chae Ryung mendapati Hae Soo tengah menulis puisi yang pernah diberikan Pangeran Wang So. Dalam hati Chae Ryung bergumam, mengapa Hae Soo sering sekali menulis kalimat itu?  Seakan ia bisa mengenali kesamaan bentuk huruf-huruf yang tersurat. Malam kian menukik, tetapi Hae Soo kesulitan memejamkan mata,  ada yang mengganjal di hati. Benarkah Pangeran Wang So melupakan setelah janji itu? Chae Ryung menangkap kegelisahan itu, ia mengambil satu saran, “Apakah sebaiknya kita mencari udara segar di luar?”
Hae Soo pun jalan-jalan membiarkan dirinya direnggut angin malam, ketika mendapati Pangeran Wang So berdiri di tepi danau, Chae Ryung segera mengundurkan diri. Akan tetapi, Pangeran  ke-4 segera menjauh. Ia tak menghendaki pertemuan ini, Hae Soo cepat berucap. “Dua tahun sudah, benarkah Pangeran ke-4 melupakan semuanya?” 
“Benar, aku memang harus melupakan. Aku bukan sengaja datang ke tempat ini”, suara Pangeran Wang So sama dinginnya dengan angin malam.
“Pangeran benar sudah melupakan, tetapi aku tidak”,  Hae Soo memeluk Pangeran Wang So dari belakang, ia telah dihantam rindu seakan ribuan tahun.  “Tetaplah di sini sebentar saja, pangeran  pergi tanpa berpamit".
Perlahan tangan Pangeran Wang So terangkat, niatnya memegang tangan Hae Soo, tetapi perlahan tangan itu terhenti, kemudian terkepal. “Apakah pangeran masih membenciku?” air mata Hae Soo berlinang.
Wajah Pangeran Wang So mengeras, tanpa suara ia melepaskan pelukan Hae Soo kemudian berlalu. Tak sedikitpun sang pangeran melirik wajah Hae Soo. Perasaan itu seakan telah mati.
                                                                         ***
Diam-diam Woo Hee menghadap Yang Mulia Raja, ia harus menyampaikan sesuatu, “So sedang merencanakan sesuatu dengan beberapa klan di Songak, sengaja memperlambat pembangunan ibu kota baru dan melakukan hal-hal tidak terpuji untuk mencegah pembangunan istana baru. Pengawasan pembangunan tidak bisa dilaksanakan, karena Wang Sik Ryeom sedang sakit”.
“So melakukan semua ini untuk mendapatkan tahta!!” suara Yang Mulia Raja menggelegar, menggetarkan lapisan dinding. Ia merasa dikhianati.
“Mengapa Yang Mulia melanggar kesepakatan kita?” suara Woo Hee diliputi sesal, wajah cantiknya tampak muram, ia telah bersepakat dengan seorang yang tak mampu memegang janji. “Yang Mulia memberi perintah agar warga yang tidak membayar pajak harus melakukan kerja paksa. Rakyat Hubaekje yang miskin dipaksa melakukan kerja pembangunan, mereka menderita”, air mata Woo Hee nyaris meleleh. "Apa gunanya saya tetap menjadi mata-mata bagi Yang Mulia?"
Woo Hee mengira Yang Mulia akan menyadari kesalahannya dan memberikan keringanan bagi rakyat Hunaekje yang menderita. Gadis itu nyaris terlonjak, ketika melihat Yang Mulia Raja  tergelak. Seorang raja bahkan tidak tahu membayar jasa baik orang yang bersepakat. “Apa engkau  mau berhenti sebagai mata-mata?” suara itu sinis.
“Benar, tidak ada gunanya diteruskan jika tak ada untungnya”, lidah Woo Hee terasa pahit, ia telah menjadi kaki tangan dari seorang yang salah.
“Tuan Putri Woo Hee hentikan persengkokolan ini, dan akan kusampaikan kepada Baek Ah, bahwa Woo Hee selama ini adalah anjingnya Raja”, sepasang mata Yang Mulia menatap dalam-dalam, ia tahu hal yang paling tersembunyi pada diri Woo Hee. Maka, suasana menjadi  hening.
                                                                      ***
Suasana di tepi danau selalu memberikan rasa nyaman, karena permukaan air yang jernih memantul serta kelopak mekar bunga dan hijau daun yang rimbun. Pangeran Wang So tampak termenung,  kenangan indah bersama Hae Soo ternyata tak mudah dilupakan, ia tak mampu membunuhnya. Sesaat wajah tampan itu mengumum senyum, sesaat. Terngiang kembali suara kepala dayang itu,  “Apakah pangeran masih membenciku? Benarkah ia mampu membencinya? Sang pangeran bertanya kepada diri sendiri tanpa menemukan jawab.
Pangeran Wang So menghela napas panjang kemudian membalikkan badan. Ia terpaku, ternyata Hae Soo berdiri tepat di belakangnya. Mereka saling menatap tepat tanpa  kata. Pada waktu  yang sama Yang Mulia Raja bersama Pangeran Wang Won tiba di paviliun di dekat danau. Baik Pangeran So maupun Hae Soo tak menyadari kehadiran Yang Mulia Raja bersama pengawal.
“Benarkah Yang Mulia Raja masih mempercayai So, walaupun sudah menyatakan bersetia sebagai sekutu? Benarkah Yang Mulia Raja benar-benar percaya kalau kedua orang itu sudah tidak memiliki  perasaan antara yang satu dengan yang lain?” Pangeran Wang Won bertanya.
“Aku sudah memastikan, So dan Hae Soo tidak pernah saling berkirim surat selama mereka berpisah”, jawab Yang Mulia Raja.
“Bisakah Yang Mulia memastikan kepercayaan itu?” Pangeran Wang Won tidak kehilangan akal.
Yang Mulia Raja menyadari kebenaran kata-kata Pangeran Wang Won, ia segera meraih sebatang anak panah, merentang gendewa, membidiknya pada tubuh Hae Soo dengan satu akibat fatal. Kepala dayang itu akan mati. Pangeran Wang So segera mencium tanda bahaya, sigap ia menarik Hae Soo, menghindarkan dari sasaran anak panah. Hae Soo masih menddapatkan kehidupan, akan tetapi tapi anak panah itu berhasil melukai lengan Pangeran Wang So hingga sang pangeran roboh terguling. Darah menetes.
Hae Soo terpengarah, ia tak  pernah menyangka Yang Mulia Raja ternyata mengharapkan kematiannya di ujung sebatang anak panah yang sengaja direntangkan. Wajah kepala dayang itu memucat ketika melihat lengan Pangeran Wang So berdarah, ia mencoba  meraih lengan itu, tetapi Pangeran Wang So menampiknya. Ketika Yang Mulia Raja dan Pangeran Wang Won datang menghampiri keduanya, tergesa Pangeran Wang So bangkit.
“Aku sedang latihan, parahkah luka itu?” Yang Mulia Raja berpura-pura cemas.
“Sepertinya hubungan kalian berdua masih baik-baik saja”, Pangeran Wang Won berucap, ia selalu bertanya-tanya dalam hati. Mengapa Wang So harus jatuh cinta dengan seorang dayang?
“Tidak, lama kami tidak berkabar. Akan tetapi, bukan suatu hal terpuji bagi seorang raja  membunuh seorang dayang istana hanya untuk latihan”, Pangeran Wang So tak pernah menyangka  seorang raja bahkan berani membidikkan anak panah kepada seorang dayang tanpa alasan apa-apa, tanpa mencemaskan akibatnya.  
Raja Wang Yo tak menanggapi kata-kata Pangeran Wang So. Pangeran ke-4 dengan sigap menyelamatkan Hae Soo dari kematian, dengan merelakan lengannya berdarah. Bukankah hubungan keduanya masih baik-baik saja? Tak berapa lama kemudian Yang Mulia pergi berlalu  tanpa lebih lama perbincangan. Adapun Pangeran Wang So melakukan hal yang sama, pergi berlalu meninggalkan Hae Soo seorang diri –-juga tanpa perbincangan apa-apa.
Hae Soo mengambil anak panah yang tertancap pada batang pohon, kemudian  memanggil Woo Hee, berbisik, “Ada yang harus kusampaikan kepada Pangeran Baek Ah”, Woo Hee tahu arti bisikan itu.
Keesokan harinya Pangeran Baek Ah berkabar, “So akan berangkat kembali ke Seokyeong, tetapi luka pada lengannya membesar, ia harus berobat dan istirahat. Aku sudah menyuruh semua orang pergi, engkau bisa menjenguknya”.
Hae Soo mengangguk, tahu apa yang harus dilakukan. Ketika melangkah perlahan menuju relung kamar, tampak Pangeran Wang So terbaring dengan luka menganga pada bagian lengan. Keringat dingin membanjir, ia tampak kesakitan. Hae Soo menempelkan ramuan obat pada luka menganga itu, sesaat kemudian Pangeran Wang So  membuka mata, pandangannya buram. Ia bahkan tidak sepenuhnya menyadari, apa yang tengah terjadi pada dirinya. Ribuan bintang seakan bersliweran kemudian runtuh saling menabrak menimbulkan kepanikan, satu tabuh kemudian tubuh lunglai itu terkulai pingsan.
Darah Hae Soo tersirap, Pangeran Wang So bukan hanya terluka pada bagian lengan, akan tetapi terdapat pula bekas luka pada bagian tubuh yang lain. Kepala dayang itu menghela napas panjang, kehidupan seorang pangeran ternyata tak seindah seperti bayangan kebanyakan orang. Bekas luka serta luka menganga pada lengan itu adalah buktinya. Kepala dayang itu menyelesaikan upaya pengobatan, sehingga luka pada lengan sang pangeran tidak berakibat fatal. Maka sang pangeran tertidur dengan lelap, melupakan segala rasa sakit.
Ketika terbangun Pangeran Wang So merasa rasa sakit pada luka di bagian lengan mulai berkurang. Sulit melukiskan beragam perasaan ketika mendapati Hae Soo tertidur dalam keadaan lelah di pojok ruangan. Perlahan Pangeran ke-4 bangkit mendekat ke Hae Soo. Sanggupkah ia membenci dayang itu? Tangan Pangeran Wang So terulur  hendak membelai wajah Hae Soo, pada saat yang sama Hae Soo terbangun.
Dengan canggung Pangeran Wang So menarik kembali tangannya, “Mengapa ada di sini?”
“Ada sesuatu yang harus kutanyakan pada pangeran, aku meminta bantuan Baek Ah untuk pertemuan ini”.
“Tanyakan, kemudian pergi setelah ini”.
“Benarkah pangeran melupakanku? Bila pangeran tidak menyukaiku lagi, bukankah hal itu kebohongan?"
“Pergilah”.
"Kita sedang tidak berada di istana, raja tidak sedang mengawasi. Aku mempertaruhkan hidup menyelinap dari istana demi pertanyaan ini. Selama dua tahun aku menunggu setiap hari. Aku ingin kembali ke saat itu, selalu berharap dan berharap lagi.  Harus kusampaikan, bahwa aku mempercayaimu….” Hae Soo masih ingin menanyakan beberapa hal, sebelum kembali bertanya, bahkan Pangeran ke-4 yang balik bertanya.
“Apakah engkau masih mencintaiku?” pertanyaan Pangeran Wang So tanpa terduga. Sesaat sang pangeran terdiam ragu, sebelum akhirnya berbalik, mencium Hae Soo. Air mata Hae Soo menitik bagai rinai gerimis, sesaat keduanya bertatapan tanpa kata. Lembut tangan Pangeran ke-4 mengusap air mata Hae Soo, ia telah menipu diri bila berucap tak mencintai dayang ini. Pertanyaan Hae Soo terjawab sudah, hati keduanya kembali menyatu pada sebuah ciuman serta dekap erat.
Wajah Hae Soo tampak damai bagai permukaan air telaga ketika berbaring di sisi Pangeran Wang So dengan sepasang mata terpejam. Sesaat setelah terbangun Hae Soo tahu penantiannya tak sia-sia, ia tak salah menunggu dan tetap menunggu. Maka keduanya melewatkan malam dengan bermain bayangan. Keesokan paginya, So kesulitan memakai sumpit, Hae Soo harus menyuapinya. Waktu seakan berdetik dengan damai, perpisahan yang panjang ini berakhir.
Selanjutnya malampun jatuh, keduanya duduk saling bersandar sambil menatap langit yang gemerlap oleh bintang-bintang. “Tahukah rasi bintang Pegasus? Lihat….” jari telunjuk Hae Soo menuding pada suatu tempat di langit tinggi.
Keduanya masih  ingin hanyut dalam kebersamaan pada malam penuh bintang setelah perpisahan dan jarak yang jauh. Akan tetapi, tiba-tiba Ji Mong tergesa datang, wajahnya cemas, “Kesehatan raja  semakin memburuk. Semula utusan dari Jurchen datang untuk melakukan ritual.  Maka, ia memilih hari penuh petir dengan maksud untuk menaku-nakuti raja. Ternyata si utusan tersambar  petir beneran,  meninggal tepat di hadapan raja.  Menurut tabib istana, raja sangat terkejut hingga terguling  pingsan.
Sesungguhnya Yang Mulia tak pernah menduduki singgasana dengan damai, setiap malam ia terbangun, melihat hantu Pangeran Wang Eun bergentayangan di relung kamar, meratap bagi permohonan terakhir. Ketakutan Yang Mulia Raja Wang Yo semakin menjadi ketika hantu Raja Taejo dan Raja Hyejong hadir pula dengan tatapan penuh teguran atas perbuatannya selama ini. Kali ini Yang Mulia tak mampu menghadapi kematian secara tiba-tiba dari seorang utusan yang tersambar petir. Tubuh rapuh itupun terguling.
Pangeran Wang Wook menemukan Raja Wang Yo terbujur di lantai. Lututnya menggigil, “Panggil tabib istana!” suara itu seakan jeritan bagi pengawal raja. “Siapkan kuda!” Pangeran ke-8 harus menemui Wang Sik Ryeom di Seokyeong.
Sementara suara Ji Mong seakan  bisikan yang telah lama dipersiapkan ketika berucap di telinga Pangeran Wang So, “Saatnya sudah tiba, Wook dan Jung sedang pergi, sementara Jenderal Park dan keluarga Kang di Shinju sedang bersiap untuk mengendalikan seluruh tentara kerajaan dan keluarga penguasa. Saatnya membuat keputusan”, Choi Ji Mong telah melihat jauh ke depan, ia seakan telah membaca takdir, siapa Raja Goryeo selanjutnya.
“Apakah pangeran benar-benar ingin menjadi raja?” Hae Soo bertanya.
“Benar….” tatapan Pangeran Wang So menerawang jauh, ia telah cukup belajar menjadi pendukung raja dengan akibat yang tidak mudah. Salahkah seorang pangeran bermimpi menjadi raja?
“Untuk alasan itu pangeran meninggalkanku?”
“Aku pergi, karena raja memanfaatkanmu untuk mendapatkanku, dan raja akan terus memanfaatkanku untuk  mengganggumu”.
“Bagaimana jika aku meminta pangeran menyerah menjadi raja?” Hae Soo bertanya.
“Aku akan terus meyakinkanmu sampai engkau berkata, bahwa apa yang kulakukan ini tidak salah”.
“Pangeran pernah sampaikan tidak perlu menjadi raja, yang penting kita bisa selalu bersama. Mengapa ucapan serupa tak terdengar lagi?”
"Kita sudah janji untuk tidak saling berbohong. Aku memulai semua ini untuk mengakhiri pertumpahan darah di di lingkungan istana.  Saat membangun istana baru di Seokyong, aku sadar bahwa dunia bisa berubah jika raja berubah. Aku tidak akan dikendalikan oleh siapapun, bisa meghentikan segala hal yang tidak masuk akal,  menjadi raja... adalah hal yang paling kuinginkan”.


Bersambung ke Scarlet Heart, Ryeo Episode 17

--Korowai Buluanop, Mabul: Menyusuri Sungai-sungai

Pagi hari di bulan akhir November 2019, hujan sejak tengah malam belum juga reda kami tim Bangga Papua --Bangun Generasi dan ...